Pesta Babi dan Kesadaran Politik (Mahasiswa) Gen Z
ILUSTRASI Pesta Babi dan Kesadaran Politik (Mahasiswa) Gen Z.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
ADA hal baru yang terjadi di kampus-kampus Indonesia beberapa pekan terkahir ini. Tempat-tempat yang biasanya hanya ramai dengan aktivitas tugas akhir dan hiruk-pikuk media sosial, kini penuh dengan bisikan tentang film dokumenter berdurasi 95 menit yang tidak tayang di bioskop mana pun: Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Para mahasiswa duduk di lantai, kursi plastik, tangga kampus, menonton, mendiskusikan, berbicara sampai larut malam. Hal-hal yang jarang sekali terjadi selama satu dekade terakhir.
Bertahun-tahun pengamat politik, pendidik, dan aktivis telah bertaruh tentang pertanyaan yang sama, di mana perginya kesadaran politik mahasiswa generasi Z?
Generasi yang lahir di era gadget, tumbuh dengan konsumsi konten 15 detik, dan yang dikatakan jauh lebih familier dengan algoritma daripada agenda. Mereka dipandang pragmatis, apolitis, dan hanya memikirkan diri sendiri.
BACA JUGA:Pesta Babi
BACA JUGA:Yusril Tegaskan Pemerintah Tak Pernah Larang Nobar Film Pesta Babi soal PSN Papua
Survei-survei telah menguatkan hal tersebut. Partisipasi mahasiswa dalam gerakan sosial makin turun, diskusi politik di kampus-kampus menjadi makin sepi, dan masalah struktural seperti hak masyarakat adat atau perampasan lahan nyaris tidak menjadi bagian dari keseharian mereka.
Seolah-olah mereka hidup dalam dimensi paralel yang terpisah jauh dari kedasaran negerinya sendiri.
Lalu, hadirlah film Pesta Babi. Sesuatu yang tidak terduga kemudian terjadi.
Film yang disutradarai Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale itu menceritakan perjuangan masyarakat adat Papua Selatan, yaitu suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu, yang wilayah kehidupan leluhurnya diteror rencana strategis nasional proyek-proyek pembangunan perkebunan kelapa sawit, gula tebu bioetanol, dan lahan pangan industri berukuran jutaan hektare.
BACA JUGA:Diskusi Pesta Babi di UC Surabaya, Gugah Kepedulian Massal terhadap Ancaman Ekologis di Tanah Papua
BACA JUGA:Pesta Babi dan Nyanyian Sunyi di Universitas Ciputra Surabaya Suguhkan Realita Masyarakat Adat Papua
Judulnya diambil dari awon atatbon, ritual sakral masyarakat Muyu dalam adat pesta babi sebagai simbol persatuan komunal dan penghormatan tertinggi atas alam.
Ketika hutannya lenyap, pesta babi juga ikut lenyap. Bersamaan dengan kematian pasta itu, lenyaplah satu peradaban. Lebih dari sekadar deforestasi, jiwa-jiwa dalam masyarakat pun mulai pudar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: