Pesta Babi dan Kesadaran Politik (Mahasiswa) Gen Z
ILUSTRASI Pesta Babi dan Kesadaran Politik (Mahasiswa) Gen Z.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Lalu, dengan format nobar yang mengharuskan orang-orang berkumpul dan berbicara setelah tontonan tersebut, hasilnya menjadi suatu hal yang sangat menentukan, siapa yang pantas didengar lebih dulu.
Yang tak kalah penting, keberanian institusional. Saat perwakilan universitas mencoba membubarkan diskusi film atas nama ”kondusivitas”, yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah jiwa dari lembaga pendidikan itu sendiri.
Universitas bukan sekadar mesin cetak ijazah. Universitas adalah tempat pikiran diuji, keyakinan dibenturkan dengan fakta, dan warga negara muda belajar cara berdiri di hadapan ketidaknyamanan inteletual tanpa melarikan diri.
Ketika fungsi itu dikerdilkan oleh tekanan dari luar atau dalam, yang hancur bukan hanya kebebasan akademik, melainkan keyakinan mahasiswa kepada lembaga-lemabaga yang seharusnya mereka percayai.
Maka, kita perlu meluruskan, bahwa generasi Z tidak antipolitik dan tidak individualistis. Pesta Babi telah menunjukkan itu.
Antusiasme mereka mengorganisasi nobar, mendaftarkan kelompok, mengunggah poster, bahkan tetap nekat menonton di tengah ancaman pembubaran, itu semua adalah tanda-tanda kesadaran yang makin berkembang.
Akhirnya tugas kita, para pendidik, jurnalis, penggiat masyarakat sipil, tidak memaksa mahasiswa untuk peduli dengan cara kita.
Tugas kita adalah membuka lebih banyak pintu seperti yang dibuka oleh Pesta Babi, pintu yang menampilkan wajah-wajah yang selama ini lebih nyaman untuk diabaikan. (*)
*) Abdus Sair, wakil dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FISIP, UWKS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: