ADA paradoks yang lucu di awal 2026. Badan Pusat Statistik mengumumkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal pertama. Tertinggi sejak 2012. Semestinya tepuk tangan. Semestinya rupiah menguat. Semestinya investor antre di bursa efek.
Yang terjadi sebaliknya. Rupiah ambruk ke Rp17.700 per dolar AS. IHSG anjlok hampir 20 persen sejak awal tahun. Modal asing kabur. Cadangan devisa tergerus 8 miliar dolar AS dalam tiga bulan.
Angka mengilap, pasar tak percaya. Itu bukan lagi soal ekonomi. Itu psikologi.
John Maynard Keynes pernah menyebutnya animal spirits. Naluri kolektif yang menggerakkan pasar. Naluri itu tidak membaca rilis BPS dengan kening berkerut seperti dosen ekonomi. Ia membaca dengan perut. Dan, perut investor pada April lalu kembung, bukan lapar.
BACA JUGA:Pertumbuhan Ekonomi Jatim Lampaui Nasional, Tapi Ketimpangan dan Kemiskinan di Madura Masih Tinggi
BACA JUGA:Pertumbuhan Ekonomi: MBG Dorong Sektor Akmamin Melejit Hingga 13,14 Persen
Mengapa? Sebab, pertumbuhan 5,61 persen itu, kalau dibedah, ditopang konsumsi pemerintah yang melesat 21,81 persen. Sumbangan dari gaji ke-14, THR, dan program Makan Bergizi Gratis. Belanja negara yang dipompa, bukannya produktivitas yang membesar. Pasar tahu bedanya. Pasar tidak naif.
Adam Smith menulis dua setengah abad lalu bahwa kemakmuran bangsa terletak pada produktivitas tenaga kerja, bukan pada kemewahan konsumsi istana. Kita seperti membalik tesis itu. Kita meriah di konsumsi, sepi di produksi. Industri pengolahan tersengal. Manufaktur terkontraksi. Isu PHK terjadi di mana-mana, dari Jawa Barat sampai Sumatera Utara.
Lalu, kita bertanya kenapa rupiah loyo. Pasar sudah menjawab. Kita yang belum mau mendengar.
Krisis kepercayaan itu, harus diakui, tidak datang tiba-tiba. Ia menumpuk pelan-pelan. Seperti karat di pipa air. Tidak terlihat dari luar, sampai suatu hari pipanya bocor. Investor mencatat banyak hal. Mereka mencatat ketika regulasi diubah di tengah jalan.
BACA JUGA:Ke Mana Perginya Pertumbuhan?
BACA JUGA:Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Melalui Penguatan Blue Economy
Mereka mencatat ketika undang-undang dirombak tanpa konsultasi memadai. Mereka mencatat ketika data resmi tidak sinkron dengan realitas di lapangan. Mereka juga mencatat diam-diam ketika janji reformasi struktural menjadi sekadar pidato.
Rakyat lebih pendiam, tetapi catatan mereka tidak kalah panjang. Mereka mencatat harga beras yang naik, sementara berita bilang inflasi terkendali. Mereka mencatat lapangan kerja yang menyempit, sementara pejabat bilang investasi membanjir.
Mereka mencatat anak-anak muda lulus sarjana yang berakhir jadi pengemudi ride-hailing. Skeptisisme itu tidak meledak. Ia mengendap. Persis seperti capital flight di pasar modal, ia bekerja diam-diam, tetapi efeknya pasti.