Memanen Karbon, Menuai Sarjana dari Lereng Bromo

Selasa 26-05-2026,15:05 WIB
Reporter : Nasywa Kaffa dan Michael A. Hutauru
Editor : Noor Arief Prasetyo

BACA JUGA:Cara Ngadirejo Membayar Kuliah dengan Udara (2): Lab Antropologi UNAIR dan Perhutani 'Mengepung' Karbon Bromo

BACA JUGA:Sisi Unik Manusia Dari Fakta Antropologi

Fotosintesis

“Fotosintesis melibatkan empat unsur utama, yakni cahaya matahari, air, karbondioksida (CO₂), dan klorofil pada tanaman. Dalam konteks kredit karbon, karbondioksida menjadi perhatian utama karena meningkat akibat aktivitas industri modern. Peserta kuliah tamu diajak memahami bahwa berbagai tanaman berklorofil, mulai dari rumput hingga pohon besar memiliki kemampuan untuk menyerap CO₂ dan dapat mengubah menjadi biomassa dan oksigen.” Ujar Guntur Bisowarno, Apt., mengenai proses fotosintesis dan kaitannya dengan bisnis karbon. “Strategi penanaman jangka panjang mencontohkan penerapan strategi ketahanan pangan melalui metode tumpang sari. Petani menanam beringin, bambu nunggu 5-10 tahun mangan opo. Makanya tanaman tumpang sari, terong mayu, bayem mayu, inilah strateginya,” ujar Guntur.

Narasumber mengajak peserta untuk mulai menanam di lahan yang tersedia dan melihat potensi besar wilayah tropis Indonesia dalam menjaga keberlanjutan udara dan air. Program pengelolaan karbon berbasis masyarakat yang dipaparkan dalam kuliah tamu ini dinilai sejalan dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui pembiayaan beasiswa, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui perdagangan karbon, serta SDG 15 tentang pelestarian ekosistem daratan melalui penghijauan dan pengelolaan hutan berkelanjutan. Selain itu, keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan juga mencerminkan implementasi SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. (*)

*) Mahasiswa Prodi Antropologi FISIP Unair Angkatan 2024

 

Kategori :