Kupas Bisnis Berbasis Etika Lingkungan dan Pendidikan di Antro Unair
Prof. Dr. H. Mohammad Adib, Drs., M.A., (Moderator, Koordinator Lab. MaBuRag, dan Penanggung jawab mata kuliah Antropologi Bisnis, tengah, berpeci Batik Jogokariyan), Chairman dan Founder IjadGroup Holding Company, Moch. Ali Irsyad, S.Ilkom., Ch., Cht.. (-Dokumen Pribadi-
HARIAN DISWAY - Departemen Antropologi FISIP Unair menggelar kuliah tamu bertajuk “Hilirisasi Karbon dan Mata Air: Peluang Bisnis Masa Depan Berbasis Etika Lingkungan dan Keadilan Pendidikan di Pedesaan Jawa Timur" di Ruang Adi Sukadana. kuliah tamu dipandu Prof. Dr. H. Mohammad Adib, Drs., M.A. selaku moderator, sekaligus Penanggung jawab mata kuliah Antropologi Bisnis dan Koordinator Laboratorium Manusia Budaya, dan Ragawi (KorLab. MaBuRag) FISIP Unair.
Hadir sebagai narasumber Moch. Ali Irsyad, S.Ilkom., Ch., Cht. adalah alumni FISIP Unair sekaligus Chairman dan Founder IjadGroup Holding Company. Ijad, panggilan akrab Narsum ini juga penerima beasiswa pendidikan di minimal tiga kampus bergengsi di dunia (Ivy League), yakni Stanford University, National University of Singapore (NUS), dan Yale University.
Kuliah tamu dimulai dengan sambutan oleh KorLab. MaBuRag, Prof. Adib. Dalam sambutannya, Prof. Adib mengatakan bahwa hadirnya dosen tamu praktisi kali ini memiliki tujuan untuk mewujudkan link and match antara ilmu Antropologi dengan dunia kerja dan usaha. Prof. Adib pun berharap, mahasiswa Antropologi apabila sudah lulus dapat membuka usaha atau berwirausaha yang mampu bersaing dengan dunia pekerjaan hingga membuka lowongan pekerjaan bagi masyarakat.
Pada kesempatan itu, Prof. Adib juga menyampaikan fokusnya terhadap persiapan pelaksanaan risetnya untuk mewujudkan SDG 13 terkait climate action. Riset Kolaborsi (Riskolab) ini merupakan satu di antara 53 gerbong (judul) dalam lokomotif Riset kolaborasi Indonesia “Jatim Melaju 2026.” Riskolab ini mengkaji hilirisasi ekonomi hijau di kawasan Bromo melalui transformasi ekosistem mata air dan serapan karbon, yang dikonversikan menjadi dana abadi beasiswa desa.
BACA JUGA:Sisi Unik Manusia Dari Fakta Antropologi
"Semua mata kuliah di Prodi Antropologi, harus mewujudkan profil lulusan antara lain sebagai peneliti. Gubernur Jatim menggagas program (kompetitif) Riset Kolaborasi 'Jatim Melaju 2026, dengan harapan para akademisi berkolaborasi memajukan Jatim dan membantu masyarakat. Riskolab ini merupakan laboratorium solusi konkrit di tingkat tapak (desa). Dengan mengubah udara menjadi dolar, kita dapat membantu masyarakat, salah satu langkah awalnya adalah menggelar empat rangkaian kuliah tamu ini," ujar Prof. Adib, 4 Juni 2026.
Dalam sesi pembuka materi, Ijad menyampaikan bahwa ilmu Antropologi dan Bisnis memiliki keterkaitan satu sama lain untuk bisa berkembang. “Metode Etnografi yang dipelajari di Antropologi ini bermanfaat dalam membangun bisnis. Metode tersebut berguna untuk memahami kebutuhan dari customer dan menangkap realitas lapangan secara holistik.” Tegasnya lebih lanjut.
Ijad, juga menceritakan bagaimana ia merintis usahanya saat masih duduk di bangku SMA. Usaha yang dilakukannya dengan jual-beli hewan qurban yang mana itu merupakan kerja sama dan dimulai dari “niat menolong” pamannya sebagai pemilik peternakan hewan qurban.
Seiring berjalannya waktu dan banyaknya rintangan yang dilalui, Ijad membagikan pengalaman berharganya saat masih berkuliah S1 yang mendapatkan pendanaan asing bernilai 1 juta dollar as.

Penyerahan Cinderama Mata dari Prof. Adib Prof. Dr. H. Mohammad Adib, Drs., M.A., (Moderator, Koordinator Lab. MaBuRag, dan Penanggung jawab mata kuliah Antropologi Bisnis, tengah, berpeci Batik Jogokariyan), kepada Moch. Ali Irsyad, S.Ilkom., Ch., Cht..-Dokumen Pribadi-
Hal tersebut divalidasi kembali oleh Ijad dengan mengatakan bahwa ia berhasil mendapatkan kesempatan tersebut karena kemampuannya dalam berempati dan memahami kebutuhan investor asing. Ijad juga mengatakan hal tersebut merupakan bagian dari kegiatan Etnografi, sebab para investor tersebut merupakan manusia yang memerlukan bantuan dari manusia lainnya. Kuncinya terletak pada empati, yang juga mengantarkannya meraih beasiswa ke Stanford University, serta lulus dari institusi top dunia seperti National University of Singapore (NUS) dan Yale University.
"Berempati adalah kunci kesuksesan dan inti utama hidup manusia. Tanpa berempati, kita tidak bisa menciptakan solusi. Gimana orang mau percaya ke kita, kalau kita saja tidak bisa berempati kepada orang lain? Don’t think about yourself first, think the benefits of others," tegas Ijad.
Perjalanan bisnis Ijad memakan waktu yang panjang dan puncaknya saat ini, beliau berhasil memimpin perusahaan holding yang menaungi 50 anak perusahaan di sektor esensial seperti sandang, pangan, dan papan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: