Cara Ngadirejo Membayar Kuliah dengan Udara (2): Lab Antropologi UNAIR dan Perhutani 'Mengepung' Karbon Bromo
Suasana Diskusi Penyiapan Beasiswa kepada Putra Putri Peradaban Tengger Bromo di Ruang Kerja Kepala Divisi Regional Jawa Timu. Wawan Triwibowo, S.Hut., M.Hut., (Berpakaian warna putih tengah) dan Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs., MA. (Berpeci dan berjas B-Dokumen Pribadi-

--
Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs, MA.
Dalam kosmologi masyarakat Jawa, alam itu tidak pernah diam. Ia selalu bicara. Melalui sasmita. Isyarat halus. Hanya mereka yang mau "mendengar" dengan mata batin yang bisa menangkapnya.
Di Desa Ngadirejo, lereng Bromo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, sasmita itu hadir dalam bentuk yang mencekam. Ancaman tanah longsor di tebing-tebing curam. Juga peringatan akan rapuhnya fondasi ekologi yang menyangga hidup warga.
Namun, bagi masyarakat Tengger, ancaman bukan berarti rasa takut yang melumpuhkan. Ancaman adalah perintah untuk bergerak. Itulah yang ditangkap oleh Bapak Atemo. Ketua LMDH Cemara Indah. Pak Atemo tidak mau menunggu bencana menyapu peradaban desa.
Maka, pada Jumat, 6 Februari 2026 lalu, sebuah orkestra kolaborasi pecah di Petak 22 RPH Sugro, KPH Pasuruan. Sepuluh ribu bibit Cemara Gunung ditanam serentak. Itu bukan sekadar menancapkan batang kayu ke tanah. Itu adalah cara warga menanam doa. Doa agar 62 titik mata air di sana tetap terjaga. Agar tanah tidak tumpah menjadi duka.
BACA JUGA:Cara Ngadirejo Membayar Kuliah dengan Udara (1): Dana Abadi Beasiswa dari Pohon Cemara
BACA JUGA:Mengenal Ragam Sesaji dalam Tradisi Masyarakat Hindu Tengger
Integrasi Sains, Otoritas, dan Kearifan Lokal
Senin lalu, 2 Maret 2026, semangat dari lereng Bromo itu saya bawa ke Surabaya. Ke meja kerja Bapak Wawan Triwibowo, S.Hut., M.Hut., Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Timur. Di kantornya yang bersejarah di Jalan Genteng Kali, kami tidak bicara angka produksi kayu. Kami bicara tentang strategi "mengepung" masalah hutan di Jawa.
Sasarannya: integrasi sains, otoritas, dan kearifan lokal. Pak Wawan, begitu akrab dipanggil, memberikan peringatan yang sangat "Antropologis". "Di pertanian, salah melangkah mungkin rugi satu musim. Tapi di hutan, salah melangkah, ruginya satu jangka (generasi)," tegas beliau.
Kalimat itu menjadi jangkar sinergitas Lab Antropologi UNAIR dan Perhutani Jatim. Kami sepakat, pengepungan ini harus presisi. Senjatanya: mekanisme Kredit Karbon.
Kenapa harus "mengepung"? Karena tekanan penduduk di Jawa (nasional, Red.) sudah tembus 285 juta jiwa. Hutan tidak lagi bisa dijaga hanya dengan pagar kawat atau patroli petugas. Hutan harus dijaga dengan kesejahteraan. Pak Wawan sadar betul. Mengelola hutan di pulau terpadat dunia harus menyeimbangkan 3P: Profit, Planet, dan People.
BACA JUGA:Eksotika Bromo 2025 Resmi Dibuka, Olivia Zalianty Bacakan Puisi Kidung Tengger
BACA JUGA:4 Kategori Besar Upacara Masyarakat Tengger, Tidak Hanya Yadnya Kasada
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: