Kupas Bisnis Berbasis Etika Lingkungan dan Pendidikan di Antro Unair

Kupas Bisnis Berbasis Etika Lingkungan dan Pendidikan di Antro Unair

Prof. Dr. H. Mohammad Adib, Drs., M.A., (Moderator, Koordinator Lab. MaBuRag, dan Penanggung jawab mata kuliah Antropologi Bisnis, tengah, berpeci Batik Jogokariyan), Chairman dan Founder IjadGroup Holding Company, Moch. Ali Irsyad, S.Ilkom., Ch., Cht.. (-Dokumen Pribadi-

Terkait etika bisnis berbasis lingkungan, Ijad menekankan prinsip ESG (Environment, Social, and Governance) untuk menciptakan keseimbangan dan keadilan yang  selaras dengan riset karbon Prof. Adib. Perusahaan Ijad memiliki andil dalam penyerapan karbon dengan memberdayakan hasil keringat dan jerih payah para petani. Beliau juga memiliki 500 hektare lahan perhutanan sosial di Trawas yang menggunakan konsep Agro Silvo Pastura, yaitu sistem tumpang sari yang memadukan tanaman jangka panjang (penyerap karbon), sayur-mayur, kopi, dan peternakan tanpa harus merusak ekosistem hutan. Hal tersebut juga memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat. 

BACA JUGA:Tiga Aspek Kajian Antropologi dalam Kasus Andini yang Tewas di Tangan Ronald

BACA JUGA:Toetik Koesbardiati, Profesor Bidang Ilmu Paleoantropologi (2); Menjadi Mahasiswa Program Studi Antropologi Angkatan Kedua

"Bisnis is good, tapi tidak ada gunanya bisnis kalau buminya mati. ESG itu bentuk dari hablum minal alam dan habluminannas, agama hadir agar manusia bisa mengelola alam dengan baik," tambah Ijad.

Turut hadir dalam acara tersebut, Prof. Dr. Rustinsyah, Dra., M.Si. yang memberikan apresiasi tinggi atas capaian sang alumni di tengah tantangan ekonomi global.

"CV Ijad luar biasa, hasil dari kerja keras Ijad bersama krunya. Kalian melihat berita-berita di televisi situasi Indonesia saat ini mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, namun kalian justru bisa mengambil peluang-peluang lebih maju. Dolar melemah kalian bisa tetap berpikir positif seperti Ijad," tutur Prof. Rustin.

Kuliah tamu ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Nayla Zahra Wijaya, salah satu mahasiswa Antropologi yang hadir, mengungkapkan impresinya selepas acara.

"Bagi saya, tamu yang diundang hari ini merupakan seseorang yang tahu betul cara berbisnis dan bagaimana kegunaan manusiawi dalam melakukan bisnis yang lebih besar. Banyak orang yang membuang bidang-bidang humanis seperti antropologi karena dianggap tidak berguna dan ujung-ujungnya tidak bisa diimplementasikan dalam pekerjaan kantor. Namun, sebenarnya antropologi merupakan tulang punggung dari semua relasi dan hubungan sebuah perusahaan dengan masyarakat yang lebih luas,” ujar Nayla, peserta Kuliah Tamu.


“Handarbeni” kata penyemangat Angropologi dalam Foto Bersama: Moderator, Narasumber, para Panitia dan Peserta setelah penyampaian materi Kuliah Tamu pada Mata Kuliah Antropologi Bisnis di Ruang Adi Sukadana FISIP Unair, 4 Juni 2026-Dokumen Pribadi-

Materi yang begitu bermanfaat dan menginspirasi tersebut ditutup dengan pesan Ijad kepada mahasiswa Antropologi yang hadir kuliah tamu tersebut. Pesan tersebut berisi agar mahasiswa tidak boleh individualis, melainkan menjadi generasi yang begitu produktif untuk menyukseskan tempat kerja hingga lingkungan sekitar, serta kesuksesan pribadi dapat dicapai apabila memiliki sifat peduli terhadap sesama dalam kehidupan bermasyarakat. Beliau juga menekankan pentingnya memiliki mimpi yang besar untuk dapat memberikan dampak besar yang nyata di kemudian hari.

"Milikilah mimpi yang besar, nanti insyaAllah akan diberikan kemudahan dan kesempatan oleh Allah untuk memberikan dampak yang besar dan menciptakan karya-karya yang besar," pesan Ijad kepada para mahasiswa mengakhiri kuliah tamu tersebut. (*)

*) Mahasiswa Prodi Antropologi FISIP UNAIR Angkatan 2024.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: