Sekampoeng Lengkapi Proses Pendidikan, Ajak Berdiskusi dan Belajar di Luar Sekolah

Minggu 31-05-2026,23:20 WIB
Reporter : Ilmi Bening
Editor : Indria Pramuhapsari

Waktu itu, negerinya membutuhkan tenaga kerja baru. Yakni, jutaan orang yang bisa menjalankan mesin, mengikuti jadwal, dan mematuhi sistem tanpa banyak bertanya. Masalahnya, manusia pada masa itu terlalu bebas.

BACA JUGA:Anies: Tak Masalah Gonta-ganti Kurikulum, yang Penting Kualitas Pengajarnya

BACA JUGA:Menakar Pendidikan Bermutu untuk Semua

Sekolah masih menyimpan karakter anak yang beragam. Anak-anak suka belajar berpikir, berdiskusi, dan berimajinasi. Tampaknya indah, tetapi menurut Rockefeller, itu tidak efisien untuk industri.

Melalui yayasannya, Rockefeller membantu untuk membentuk sistem pendidikan modern yang sebenarnya mirip dengan sistem pekerja pabrik. Tujuannya sederhana, mencetak pekerja, bukan pemikir. 


TAYANGAN konsep pendidikan di sekolah modern ala Rockefeller saat soft launching Sekampoeng x Klasik pada Minggu, 31 Mei 2026. -Ilmi Bening-Harian Disway

Jam pelajaran diatur seperti jadwal pabrik. Ada jam masuk, jam istirahat, jam pulang. Pekerjaan rumah, ujian, rapor menjadi alat ukur yang seragam.

Dan, ketika sistem itu berhasil diterapkan di AS, efeknya menyebar ke seluruh dunia, termasuk sekolah modern di Indonesia. 

BACA JUGA:Pecundang Pendidikan: Kisah Abadi Joki Seleksi PTN

BACA JUGA:Ruh Tut Wuri Handayani Ki Hadjar Dewantara: Masihkah Pendidikan di Indonesia Memanusikan Manusia?

Nilai tinggi lebih dihargai ketimbang rasa ingin tahu. Sekolah menjadi tempat menyalin kebenaran, bukan menemukan kebenaran. Dari SD sampai kuliah, masyarakat hidup di bawah tekanan untuk membangun citra "tidak gagal. 

Siswa hanya belajar bukan untuk memahami, tapi untuk tidak disalahkan. Anak yang menghafal rumus dipuji, sedangkan anak yang bertanya tentang bagaimana rumus itu dibuat, seringkali dianggap mengganggu.

Banyak sekolah modern di Indonesia juga meniru pola itu, yakni patuh dan tanpa banyak tanya. Dari video itu, Iman kemudian menyoroti kondisi pendidikan yang ada di Indonesia saat ini yang bisa mempengaruhi berbagai macam karakter anak-anak muda.

Salah satunya, pemuda dengan IPK tinggi yang membanggakan, lulus dari universitas ternama, dan punya banyak prestasi. Sayangnya, si brilian itu terjebak dalam ekspektasi orang lain. 

BACA JUGA:Dari Menara Gading ke Lini Produksi (1): Relevansi Program Studi Pendidikan Tinggi

BACA JUGA:Isu Moralitas Mahasiswa Jadi Sorotan, Dunia Pendidikan Dorong Penguatan Karakter dan Etika

Kategori :