Pendidikan Menjadi Urusan Semua Orang
Moch. Abduh Ph.D--
ADA pepatah Afrika yang sangat dekat dengan topik ini. It takes a village to raise a child, ’dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak’. Tidak ada sekolah yang mampu mendidik sendirian. Guru boleh mengajar enam jam sehari, tetapi kehidupan murid berlangsung jauh lebih panjang di rumah, lingkungan masyarakat, dan ruang digital.
Karena itu, ketika mutu pendidikan menjadi agenda nasional, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kuantitas dan kualitas sekolah, melainkan juga kualitas ekosistem belajar yang mengitari anak.
Indonesia sesungguhnya telah menunjukkan kemajuan yang patut diapresiasi dalam memperluas akses pendidikan. Publikasi Indonesia Education Statistics in Brief 2025/2026 menunjukkan bahwa layanan pendidikan nasional kini hampir menjangkau 450 ribu satuan pendidikan dengan lebih dari 52 juta murid di seluruh Indonesia.
Angka partisipasi sekolah (APS) pada kelompok usia pendidikan dasar juga telah mendekati universal. Namun, pada kelompok usia 16–18 tahun, APS masih lebih rendah jika dibandingkan dengan jenjang sebelumnya.
BACA JUGA:Mendidik Intelektual Beradab: Mengapa Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Masih Penting?
BACA JUGA:Pendidikan Tinggi: Antara Misi Publik dan Logika Pasar
Fakta itu mengingatkan bahwa tantangan pendidikan Indonesia bukan lagi semata membuka akses, melainkan memastikan setiap anak bertahan belajar, memperoleh layanan yang bermutu, dan berkembang secara optimal tanpa memandang latar belakang sosial maupun wilayah tempat tinggal.
Setiap kali hasil belajar murid menjadi sorotan, perhatian publik hampir selalu tertuju kepada sekolah. Guru dituntut meningkatkan kompetensi, kepala sekolah diminta memperbaiki tata kelola, dan pemerintah didorong menghadirkan kebijakan baru.
Padahal, sekolah sesungguhnya hanya salah satu simpul dalam ekosistem pendidikan. Selebihnya, anak bertumbuh di tengah keluarga, masyarakat, dan ruang digital yang setiap hari membentuk cara berpikir, sikap, dan karakternya.
Pendidikan Bermutu untuk Semua Melalui Partisipasi Semesta
Kesadaran itulah yang menjadi makin penting ketika Indonesia memasuki fase baru transformasi pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengusung visi ”Pendidikan Bermutu untuk Semua” yang diwujudkan melalui partisipasi semesta.
BACA JUGA:Siswa Belum Bisa Membaca dan Riset Palsu: Potret Sakitnya Pendidikan Kita
BACA JUGA:Pendidikan Membahagiakan Berbasis Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
Visi tersebut bukan sekadar slogan administratif, melainkan pengakuan bahwa kualitas pendidikan hanya dapat ditingkatkan apabila seluruh elemen bangsa mengambil bagian secara nyata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: