Pendidikan Menjadi Urusan Semua Orang
Moch. Abduh Ph.D--
Rapor Pendidikan Indonesia 2026 bahkan menegaskan bahwa data pendidikan tidak lagi hanya menjadi milik sekolah dan pemerintah daerah, tetapi juga menjadi instrumen bersama bagi orang tua, masyarakat, dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Transformasi tersebut makin nyata melalui Rapor Pendidikan Indonesia yang sejak 2022 berkembang menjadi instrumen perbaikan berkelanjutan. Pada edisi 2026, Rapor Pendidikan tidak hanya ditujukan kepada sekolah dan pemerintah daerah, tetapi juga didorong menjadi sumber informasi bagi orang tua, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
Pesan yang ingin dibangun sangat jelas: mutu pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Data tidak berhenti sebagai laporan administratif, tetapi menjadi dasar kolaborasi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, iklim sekolah, karakter murid, dan kepemimpinan pendidikan.
BACA JUGA:Menakar Pendidikan Bermutu untuk Semua
BACA JUGA:Ruh Tut Wuri Handayani Ki Hadjar Dewantara: Masihkah Pendidikan di Indonesia Memanusikan Manusia?
Catur Pusat Pendidikan
Di sinilah konsep Catur Pusat Pendidikan menemukan relevansinya. Berangkat dari gagasan Tri Pusat Pendidikan-nya Ki Hadjar Dewantara, konsep itu berkembang menjadi empat pusat pendidikan, ditambah media. Keempatnya bukanlah aktor yang bekerja masing-masing, melainkan jaringan yang saling menopang dalam membangun pengalaman belajar murid.
Perubahan itu menjadi makin mendesak karena tantangan pendidikan abad ke-21 tidak lagi berkaitan dengan akses sekolah. Anak-anak Indonesia kini hidup dalam arus informasi yang nyaris tanpa batas.
Mereka belajar dari guru, tetapi juga dari media sosial, memperoleh pengetahuan dari buku, sekaligus dari kecerdasan artifisial, membangun karakter melalui keluarga, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan digital.
Dalam situasi seperti itu, keberhasilan pendidikan tidak lagi ditentukan oleh kualitas ruang kelas semata, melainkan oleh kualitas ekosistem belajar secara keseluruhan.
BACA JUGA:Mewujudkan Pendidikan Berkeadilan bagi ABK: Antara Cita-Cita, Realitas, dan Jalan Menuju Perubahan
BACA JUGA:Pendidikan untuk Semua, Slogan Nyata atau Sekadar Permainan Kata-Kata?
Keluarga sebagai Sekolah Pertama
Berbagai kajian internasional selama dua dekade terakhir memperlihatkan pola yang konsisten: keterlibatan keluarga merupakan salah satu faktor yang paling kuat memengaruhi keberhasilan belajar murid.
Orang tua yang membangun budaya membaca, berdialog, mendampingi penggunaan teknologi secara bijak, dan memberi dukungan emosional akan menciptakan lingkungan belajar yang jauh lebih efektif daripada sekadar menambah jam pelajaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: