Siswa Belum Bisa Membaca dan Riset Palsu: Potret Sakitnya Pendidikan Kita

Siswa Belum Bisa Membaca dan Riset Palsu: Potret Sakitnya Pendidikan Kita

Ketika Pendidikan Hanya Mengejar Nilai: Potret Kesehatan Psikologis Pendidikan Indonesia yang Semakin Mengkhawatirkan.-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Dunia pendidikan saat ini sedang mengalami krisis yang tak nampak secara nyata namun semakin terasa. Fenomena “skandal publikasi ilmiah di kancah internasional” yang saat ini sedang ramai dibicarakan, semakin memperkeruh permasalahan yang telah ada.

Ketika berbicara tentang krisis pendidikan, sebagian besar orang mungkin akan langsung membayangkan rendahnya angka literasi, keterbatasan fasilitas sekolah, atau ketimpangan akses pendidikan di berbagai daerah. Semua itu memang masalah yang nyata terlihat.

Namun, terdapat persoalan lain yang jauh lebih mendasar dan sering kali luput dari perhatian: Bahwa pendidikan Indonesia saat ini sedang menghadapi krisis psikologis yang perlahan menggerogoti makna dari kata belajar itu sendiri.

Dalam beberapa bulan terakhir, publik disuguhkan berbagai peristiwa dari dunia pendidikan yang sekilas tampak tidak saling berkaitan. Di satu sisi, beredar berbagai laporan mengenai siswa yang naik jenjang pendidikan meskipun kemampuan membaca dan berhitungnya belum memadai.

Di sisi lain, muncul dugaan skandal publikasi ilmiah dan riset palsu yang menyeret nama akademisi Indonesia ke dalam sorotan internasional. Pada saat yang sama, semakin banyak siswa, mahasiswa, guru, bahkan dosen yang mengeluhkan mengenai kelelahan mental, tekanan akademik, dan hilangnya semangat belajar.

Jika diamati secara lebih mendalam, fenomena-fenomena tersebut sebenarnya merupakan gejala dari masalah yang sama: pendidikan semakin bergeser dari proses pengembangan manusia menjadi sekadar mekanisme produksi capaian. Belajar tidak lagi dipandang sebagai proses memahami dunia, melainkan sebagai alat untuk memperoleh nilai.

BACA JUGA:Krisis Rasa Malu: Mengapa Pelanggar Aturan Kini Lebih Galak daripada yang Menegur?

BACA JUGA:Gombloh Day dan Lokaseni Gombloh, Merawat Nyala Api Sang Penyair Jalanan

Sekolah tidak lagi dipersepsikan sebagai ruang tumbuh, melainkan arena kompetisi. Gelar akademik tidak lagi menjadi simbol penguasaan dan pemaknaan ilmu, tetapi sering kali hanya diperlakukan sebagai simbol status sosial. Dalam perspektif psikologi, kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena telah menyentuh fondasi utama dari motivasi manusia dalam belajar.

Para pakar psikolog pendidikan telah lama membedakan dua jenis motivasi utama dalam belajar, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Menurut teori SDT atau Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Deci & Ryan (1985), motivasi intrinsik muncul ketika seseorang melakukan suatu aktivitas karena aktivitas tersebut memang dianggap menarik, bermakna, dan memberikan kepuasan psikologis.

Sebaliknya, motivasi ekstrinsik muncul ketika seseorang melakukan aktivitas untuk memperoleh imbalan atau menghindari hukuman.

Dalam konteks pendidikan, siswa yang belajar karena ingin memahami konsep baru dan ilmu baru menunjukkan motivasi intrinsik. Sementara siswa yang belajar hanya untuk mendapatkan nilai tinggi menunjukkan motivasi ekstrinsik.

Masalahnya bukan karena motivasi ekstrinsik (seperti nilai, ranking, atau bahkan IPK) selalu buruk. Dalam kondisi tertentu, motivasi ekstrinsik justru dapat membantu individu mencapai target tertentu. Persoalan muncul ketika seluruh sistem pendidikan hanya berfokus pada penghargaan yang dilihat secara eksternal.

Sejak usia dini, banyak anak diajarkan bahwa nilai tinggi adalah ukuran keberhasilan. Ketika mendapatkan nilai bagus, mereka dipuji. Ketika nilainya rendah, mereka dianggap kurang berprestasi. Lambat laun, anak belajar bahwa tujuan utama pendidikan bukanlah memahami pelajaran, melainkan memperoleh angka paling tinggi pada rapor.

Akibatnya, orientasi belajar jadi berubah. Pertanyaan “apa yang harus saya pahami?” bergeser menjadi “harus berapa nilai saya?”. Pertanyaan seperti “apa yang bisa saya pelajari?” berubah menjadi “saya harus ranking berapa?”.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: