Siswa Belum Bisa Membaca dan Riset Palsu: Potret Sakitnya Pendidikan Kita

Siswa Belum Bisa Membaca dan Riset Palsu: Potret Sakitnya Pendidikan Kita

Ketika Pendidikan Hanya Mengejar Nilai: Potret Kesehatan Psikologis Pendidikan Indonesia yang Semakin Mengkhawatirkan.-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Apakah kita sedang membentuk peneliti yang ingin menemukan kebenaran? Ataukah peneliti yang sekadar ingin menambah daftar publikasi? Apakah kita sedang membentuk individu yang ingin untuk bertumbuh? Ataukah individu yang hanya ingin belajar tampil dan terlihat berhasil melalui pencapaian eksternal tadi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Pendidikan adalah proses pembentukan manusia. Ketika orientasi pendidikan terlalu sempit, manusia yang dihasilkan pun berisiko tumbuh dengan orientasi yang sempit.

Mereka belajar mengejar pencapaian, tetapi tidak belajar menjaga integritas. Mereka belajar berkompetisi, tetapi tidak belajar berempati. Mereka belajar memperoleh pengakuan, tetapi tidak belajar memahami makna dari apa yang mereka pelajari.

Krisis pendidikan Indonesia saat ini mungkin bukan semata-mata krisis kurikulum, krisis anggaran, atau krisis fasilitas. Di balik semua persoalan tersebut terdapat krisis yang lebih mendalam: krisis makna.

Kita hidup dalam budaya yang semakin mengagungkan angka, sertifikat, ranking, indeks, dan hasil akhir. Semua itu memang penting. Namun ketika indikator-indikator tersebut menjadi tujuan utama, pendidikan semakin kehilangan jiwanya.

Psikologi mengajarkan bahwa manusia berkembang secara optimal ketika ia merasa memiliki tujuan, otonomi, kompetensi, keterhubungan sosial, dan kesempatan untuk bertumbuh. Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari berapa banyak siswa yang lulus, berapa tinggi IPK mahasiswa, atau berapa banyak publikasi yang dihasilkan. Keberhasilan pendidikan juga diukur dari kualitas manusia yang lahir darinya.

Jika sekolah hanya mengajarkan cara mendapatkan nilai, tetapi gagal mengajarkan cara menjadi manusia yang berintegritas, maka kita mungkin sedang menghasilkan generasi yang tampak berhasil di atas kertas, tetapi kehilangan fondasi psikologis yang dibutuhkan untuk membangun masa depan bangsa.

Dan ketika integritas mulai dianggap kurang penting dibanding prestasi, ketika makna belajar kalah oleh obsesi terhadap angka, serta ketika kesehatan mental dikorbankan demi pencapaian akademik, maka mungkin sudah saatnya kita mengakui satu hal yang tidak nyaman untuk didengar: Pendidikan Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja.

*) Dosen Fakultas Psikologi Universitas 45 Surabaya

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: