Siswa Belum Bisa Membaca dan Riset Palsu: Potret Sakitnya Pendidikan Kita

Siswa Belum Bisa Membaca dan Riset Palsu: Potret Sakitnya Pendidikan Kita

Ketika Pendidikan Hanya Mengejar Nilai: Potret Kesehatan Psikologis Pendidikan Indonesia yang Semakin Mengkhawatirkan.-Nano Banana 2-Nano Banana 2

BACA JUGA:Malapetaka MBG: Kasus Penangkapan Eks Kepala BGN

BACA JUGA:Ketika Sains Kehilangan Moral

Dalam jangka panjang, perubahan orientasi ini memiliki konsekuensi psikologis yang sangat besar. Ketika harga diri bergantung pada prestasi, dalam psikologi perkembangan ada konsep yang disebut contingent self-worth, yaitu kondisi ketika harga diri seseorang bergantung pada pencapaian tertentu.

Anak yang sejak kecil hanya diapresiasi ketika memperoleh nilai tinggi akan mulai percaya bahwa dirinya berharga karena prestasinya. Ketika prestasi meningkat, harga dirinya ikut naik. Namun ketika prestasi menurun, harga dirinya ikut runtuh.

Fenomena ini semakin sering ditemukan pada siswa dan mahasiswa masa kini. Tidak sedikit peserta didik yang mengalami kecemasan luar biasa ketika menghadapi ujian. Bukan semata karena mereka takut gagal memahami materi, melainkan karena mereka merasa nilai buruk akan menjadi bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.

Di sinilah pendidikan mulai memasuki wilayah yang berbahaya. Belajar bukan lagi menjadi sarana pengembangan diri, tetapi berubah menjadi alat untuk mempertahankan harga diri. Ketika nilai menjadi sumber utama identitas, maka setiap kegagalan akademik terasa seperti ancaman terhadap eksistensi keberadaan diri itu sendiri. Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa semakin banyak siswa mengalami stres akademik, kecemasan performa, bahkan burnout.

Istilah burnout tidak hanya terjadi di dunia kerja, namun juga dapat terjadi pada dunia akademik. Dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa burnout juga semakin banyak dialami oleh para pelajar dan mahasiswa di seluruh penjuru Indonesia.

Burnout akademik umumnya ditandai oleh tiga gejala utama: Kelelahan emosional, hilangnya motivasi belajar, dan munculnya sikap sinis terhadap pendidikan. Siswa yang mengalami burnout sering kali tetap hadir di kelas, tetap mengerjakan tugas, bahkan tetap memperoleh nilai yang baik. Namun secara psikologis mereka telah kehilangan keterhubungan emosional dengan proses belajar atau apapun yang saat ini sedang mereka pelajari.

Mereka belajar karena terpaksa. Mereka mengerjakan tugas karena takut konsekuensi. Mereka mengejar nilai karena tidak melihat alternatif lain selain belajar dan mendapatkan nilai yang baik. Dari luar, mungkin mereka tampak berhasil dan bahagia. Dari dalam, mereka mengalami kelelahan yang mendalam.

Fenomena ini menjadi semakin relevan di era digital ketika tuntutan produktivitas muncul hampir setiap saat. Media sosial dipenuhi unggahan mengenai prestasi akademik, beasiswa luar negeri, publikasi internasional, lomba nasional, dan berbagai pencapaian lainnya. Tanpa disadari, peserta didik hidup dalam lingkungan yang terus-menerus mengingatkan bahwa mereka harus lebih sukses dari kemarin.

Psikolog sosial seperti Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Pada masa lalu, proses perbandingan sosial terjadi dalam lingkup yang relatif terbatas. Seseorang membandingkan dirinya dengan teman sekolah, tetangga, atau rekan kerja.

Kini situasinya berbeda. Media sosial memungkinkan individu membandingkan dirinya dengan ribuan bahkan jutaan orang sekaligus. Siswa membandingkan nilainya dengan siswa yang lain. Mahasiswa membandingkan IPK-nya dengan mahasiswa lain.

Guru dan dosen pun membandingkan jumlah publikasinya ataupun karyanya dengan kolega lain. Peneliti membandingkan reputasinya dengan akademisi internasional. Akibatnya muncul fenomena yang sering disebut sebagai achievement anxiety atau kecemasan prestasi.

Individu merasa harus terus berlari karena melihat orang lain juga terus berlari. Mereka takut tertinggal. Mereka takut dianggap gagal. Mereka takut terlihat biasa-biasa saja.

Padahal sebagian besar yang terlihat di media sosial hanyalah potongan-potongan keberhasilan yang tidak menggambarkan keseluruhan realitas. Ketika integritas dikalahkan oleh tekanan prestasi, maka disitulah muncul salah satu dampak paling serius dari budaya performa. Dimana munculnya perilaku tidak etis demi mencapai target tertentu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: