Siswa Belum Bisa Membaca dan Riset Palsu: Potret Sakitnya Pendidikan Kita
Ketika Pendidikan Hanya Mengejar Nilai: Potret Kesehatan Psikologis Pendidikan Indonesia yang Semakin Mengkhawatirkan.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Dalam beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh berita mengenai skandal riset palsu yang melibatkan akademisi Indonesia dalam ranah internasional. Kasus ini memunculkan kekhawatiran besar karena menyentuh jantung dunia pendidikan tinggi: integritas ilmiah.
Banyak orang memandang kasus tersebut semata-mata sebagai persoalan moral individu. Tentu saja tanggung jawab personal tetap penting. Namun dari perspektif psikologi sosial, kita perlu melihat konteks yang lebih luas.
Melalui konsep Moral Disengagement oleh Albert Bandura, menjelaskan bahwa individu dapat melakukan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan nilai moral ketika mereka berhasil menciptakan pembenaran psikologis atas perilakunya.
Dalam lingkungan yang sangat kompetitif, seseorang dapat mulai meyakini bahwa: Semua orang melakukan hal yang sama. Target yang diberikan terlalu tinggi. Sistem menuntut hasil instan. Tujuan yang dicapai lebih penting daripada prosesnya.
Ketika pembenaran semacam ini muncul, integritas perlahan menjadi fleksibel. Perilaku yang sebelumnya dianggap tidak dapat diterima mulai terlihat masuk akal. Inilah yang membuat kasus-kasus pelanggaran akademik perlu dipahami bukan hanya sebagai kegagalan individu, tetapi juga sebagai refleksi dari budaya pendidikan yang saat ini terlalu berorientasi pada hasil.
Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, gejala yang sama muncul dalam bentuk berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat sering menemukan kasus siswa yang naik kelas meskipun kemampuan dasarnya belum memadai. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah pendidikan masih berorientasi pada penguasaan kompetensi, ataukah hanya berorientasi pada penyelesaian administrasi?
Ketika kelulusan menjadi target utama, maka proses belajar dapat kehilangan makna. Yang penting naik kelas. Yang penting lulus. Yang penting memiliki ijazah. Akibatnya, sekolah berisiko menghasilkan lulusan yang secara administratif memenuhi syarat, tetapi belum memiliki kompetensi yang diperlukan.
Secara psikologis, kondisi ini juga berbahaya karena menciptakan ilusi keberhasilan. Anak merasa berhasil tanpa benar-benar menguasai kemampuan yang dibutuhkan. Ketika kemudian menghadapi tantangan yang lebih kompleks, mereka mengalami kebingungan dan kehilangan rasa percaya diri.
BACA JUGA:Penjilat Politik
BACA JUGA:Bidan RSUD Besuki Dimakamkan di Desa Blitok: Solusi Hadapi Penderita Sindrom Othello
Siswa diajarkan mengejar nilai, tetapi tidak selalu diajarkan menerima dirinya. Mahasiswa diajarkan mengejar prestasi, tetapi tidak selalu dibantu menemukan tujuan hidupnya. Dosen didorong menghasilkan publikasi, tetapi sering kali tidak memiliki ruang yang cukup untuk menjaga kesejahteraan psikologisnya.
Akibatnya, pendidikan menghasilkan individu yang mungkin kompeten secara teknis tetapi rapuh secara psikologis. Mereka mampu menyelesaikan soal ujian, tetapi kesulitan memahami dirinya sendiri. Mereka mampu mencapai target, tetapi kehilangan makna.
Manusia membutuhkan makna untuk dapat bertahan dan berkembang. Ketika aktivitas kehilangan makna, individu mulai mengalami kehampaan eksistensial. Jika gagasan ini diterapkan pada dunia pendidikan, maka pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya “seberapa tinggi nilai siswa?” melainkan juga: Mengapa mereka belajar? Apa makna pendidikan bagi mereka? Apakah mereka merasa bertumbuh? Apakah mereka merasa hidupnya lebih bermakna melalui pendidikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat jarang menjadi fokus dari evaluasi pendidikan saat ini. Kita lebih sering mengukur nilai, ranking, akreditasi, dan publikasi dibandingkan mengukur rasa ingin tahu, integritas, atau kesejahteraan psikologis. Padahal pendidikan yang sehat seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang utuh.
Pertanyaan paling penting yang perlu diajukan adalah, manusia seperti apa yang sebenarnya sedang kita bentuk melalui sistem pendidikan saat ini: Apakah kita sedang membentuk generasi yang mencintai ilmu? Ataukah generasi yang hanya mencintai angka yang tertulis nyata pada rapor?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: