Ketika Sains Kehilangan Moral

Ketika Sains Kehilangan Moral

ILUSTRASI Ketika Sains Kehilangan Moral.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

DUNIA akademik Indonesia kembali diguncang. Tiga ”peneliti” Indonesia, salah seorang di antaranya disebut sebagai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dilaporkan memaparkan hasil penelitian palsu yang disusun dengan bantuan kecerdasan buatan demi mengejar hibah internasional. 

Kasus itu bukan sekadar pelanggaran administratif atau kesalahan teknis akademik. Itu adalah alarm moral

Di tengah euforia artificial intelligence (AI) yang menjanjikan percepatan riset dan produktivitas ilmiah, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemajuan teknologi juga diiringi kematangan etika? Ataukah, kita justru sedang menciptakan generasi akademik yang canggih secara teknis, tetapi rapuh secara moral? 

Dalam bukunya, Morality: Restoring the Common Good in Divided Times, Jonathan Sacks mengingatkan bahwa krisis terbesar masyarakat modern bukan semata krisis ekonomi atau politik, melainkan hilangnya ”moral common ground”. Ketika manusia hanya mengejar prestasi individual, reputasi, dan keuntungan pribadi, nilai kejujuran perlahan tergeser oleh ambisi.

BACA JUGA:Kemendiktisaintek Ajak UNY Telusuri Dugaan Riset Palsu di Konferensi Denmark

BACA JUGA:Biodata Prihantini Terduga Riset Palsu, Alumnus LPDP ITB yang Dikaitkan dengan Dugaan Plagiasi 21 Karya Ilmiah

Sains pada dasarnya lahir dari kepercayaan. Publik percaya kepada ilmuwan karena ada asumsi bahwa data dikumpulkan secara jujur, metode dilakukan secara benar, dan kesimpulan dibangun di atas integritas. Begitu kepercayaan itu runtuh, yang hancur bukan hanya reputasi individu, melainkan juga legitimasi ilmu pengetahuan itu sendiri.

Filsuf Bertrand Russell dalam buku Fact and Fiction pernah menulis bahwa salah satu tantangan terbesar manusia modern adalah kaburnya batas antara fakta dan narasi yang direkayasa. Hari ini, dengan AI generatif, batas itu makin tipis. 

Mesin dapat membuat grafik ilmiah, abstrak penelitian, hingga hasil statistik yang tampak meyakinkan hanya dalam hitungan menit. Presentasi ilmiah dapat terlihat sangat profesional, padahal fondasinya kosong. Kita hidup di era ketika ”penampilan ilmiah” kadang lebih dihargai daripada proses ilmiah itu sendiri.

Tantangan Dunia Akademik

Tekanan dunia akademik modern memang nyata. Dosen dan peneliti diburu target publikasi, sitasi, indeks Scopus, reputasi internasional hingga perolehan grant. Kampus berlomba mengejar peringkat dunia. 

BACA JUGA:Profil dan Riwayat Pendidikan Sahnaz Vivinda Putri, Adik Rifaldy Fajar Terduga Riset Palsu yang Ikut Terseret

BACA JUGA:Meski Diterpa Dugaan Riset Palsu, Rifaldy Fajar Dijadwalkan Hadiri Kongres Kedokteran di Jepang dan Korsel

Negara ingin meningkatkan output riset demi citra kemajuan. Dalam atmosfer seperti itu, sebagian orang mulai melihat integritas sebagai hambatan, bukan fondasi. AI kemudian hadir sebagai jalan pintas. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: