HARIAN DISWAY - Aksara Jawa berperan penting dalam membangun sejarah dan peradaban masa silam. Itu tercatat dalam naskah-naskah Jawa klasik.
Belajar bahasa memang tidak cukup jika hanya mendengarkan penjelasan guru atau membaca buku. Perlu praktik agar lebih melekat dalam ingatan.
Seperti ditunjukkan saat kegiatan workshop Aksara Jawa Mbangunredjo Art Festival (MBAF). Kegiatan itu berlangsung dalam Pameran Kreasi Seni Kelas Kecil pada 17-20 Mei 2026.
Wiji Utomo pemateri workshop mengajarkan pada 14 peserta. Mereka berpraktik langsung menulis aksara Jawa.
BACA JUGA:Pameran Karya Aksara Jawa Kuna Nawasena Interpretasikan Sejarah Lampau
Peserta kebanyakan berasal dari kalangan mahasiswa berusia 18-20 tahun. Materi yang diajarkan adalah sandangan atau tanda baca, aksara angka, aksara swara, dan aksara murda.
Peserta fokus menyimak materi aksara Jawa yang disampaikan Wiji Utomo. -- Mbangunredjo Art Festival (MBAF)
“Ada dua orang yang bisa menulis aksara Jawa. Sedangkan yang benar-benar menguasai hanya satu orang. Karena yang bersangkutan berasal dari Solo. Jadi, sehari-hari ia sering menggunakan aksara Jawa,” ungkap Wiji.
Sebagai pengajar bahasa Jawa di sekolah menengah, Wiji melihat beberapa kendala yang sering terjadi dalam pembelajaran.
Kendala pertama adalah peserta yang merasa kesulitan menghafal bentuk dan bunyi. Serta merangkai kalimat dengan aksara Jawa.
BACA JUGA:Aksara Jawa dan Bahasa Jawa Kromo Menunggu Kebijakan Politik Bahasa Daerah
Selanjutnya, jam mata pelajaran bahasa Jawa masih terlalu singkat di sekolah. Bahkan tidak menjadi pilihan wajib pada beberapa sekolah.
“Ada pelajaran bahasa Jawa yang hanya diajarkan sesuai kebutuhan. Dan diserahkan pelaksanaannya pada sekolah. Sehingga tidak semua sekolah memilih dan mempunyai jam pelajaran yang cukup. Bahkan, durasi pembelajarannya hanya satu jam,” keluhnya.