SURABAYA, HARIAN DISWAY- Di tengah kondisi fundamental perbankan saat ini yang sebenarnya masih terjaga serta rasio pinjaman terhadap simpanan yang tinggi dan likuiditas bagus, ancaman perbankan dalam negeri tetap perlu diwaspadai.
Utamanya, ancaman dari eksternal yang Anda Sudah Tahu: depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Jika pelemahan mata uang garuda itu terjadi dalam skala besar, perbankan nasional berpotensi menghadapi risiko sistemik (systemic risk).
BACA JUGA:Pemerintah Stabilkan Rupiah dengan Instrumen Utang, Ekonom Ingatkan Resiko Krisis
BACA JUGA:Stabilkan Nilai Tukar Rupiah, Kemenkeu dan BI Tingkatkan Daya Tarik Surat Utang
Mulai dari pembengkakan kredit bermasalah Non-Performing Loan (NPL) hingga ancaman paling ekstrem: penarikan dana massal atau bank rush akibat krisis kepercayaan pasar.
Pakar Perbankan dari Universitas Airlangga (Unair) Andi Estetiono membedah secara rinci efek domino yang bakal terjadi jika rupiah terus merosot. Terutama bagi nasabah debitur yang memiliki pinjaman di perbankan.
”Depresiasi rupiah saat ini akan menghantam dua posisi nasabah debitur sekaligus,” katanya kepada Harian Disway, Minggu 7 Juni 2026.
Pertama, nasabah yang memiliki pinjaman dalam bentuk valuta asing (valas), khususnya dolar AS. Saat rupiah terdepresiasi, beban mereka untuk membayar utang otomatis membengkak berkali-kali lipat.
BACA JUGA:Rupiah Melemah ke Rp17.400 per Dolar AS, Bank Indonesia Intervensi Pasar
Kedua, nasabah yang pinjamannya berbentuk rupiah, namun bisnisnya mengandalkan bahan baku impor dari luar negeri. "Ketika dolar naik, harga pokok produksi mereka pasti melonjak. Akibatnya, dunia usaha susah bergerak dan kapasitas membayar cicilan ke bank pun menurun,” paparnya.
Dua posisi nasabah ini, kata Andi, dapat memicu kenaikan risiko kredit. Utamanya, NPL yang bakal merangkak naik. Kebalikan dari kondisi itu, hanya nasabah eksportir yang justru meraup untung dari situasi ini.
Dalam kondisi darurat seperti ini, intervensi biasanya dilakukan melalui kebijakan moneter. Salah satunya menggunakan cadangan devisa (cadev) untuk menyuntik dolar ke pasar guna menahan kejatuhan rupiah.
Namun, Andi mengingatkan bahwa intervensi semacam itu sifatnya terbatas, hanya menahan atau memperlambat.