Paradoks Perdamaian

Senin 08-06-2026,09:33 WIB
Oleh: Eko Ernada*

Paradoks tersebut telah lama menjadi perdebatan dalam pemikiran politik. Thomas Hobbes melihat ketakutan terhadap kekerasan sebagai alasan utama manusia membangun tatanan politik. Dalam perspektif itu, keamanan lahir dari kemampuan mengendalikan ancaman. 

Sebaliknya, Immanuel Kant berpendapat bahwa perdamaian yang langgeng harus dibangun melalui hukum, institusi, dan kerja sama antarbangsa. Perdebatan itu masih membentuk dunia hingga hari ini.

BACA JUGA:Abu Dhabi Ganjalan Baru Perdamaian di Timur Tengah

BACA JUGA:KTT Perdamaian Tanpa Kehadiran Iran

Dalam studi hubungan internasional, fenomena tersebut dikenal sebagai security dilemma. Ketika satu negara meningkatkan kemampuan militernya untuk mempertahankan diri, negara lain melihat langkah itu sebagai ancaman. 

Respons yang muncul adalah peningkatan kekuatan yang serupa. Akibatnya, semua pihak merasa makin tidak aman meskipun tujuan awal mereka adalah menciptakan keamanan. Upaya menciptakan rasa aman justru melahirkan ketidakamanan baru.

Tidak mengherankan apabila dunia saat ini menyaksikan paradoks yang makin nyata. Perang Rusia-Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Konflik di Timur Tengah terus mengalami eskalasi. Rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok kian intens, terutama di kawasan Indo-Pasifik.

Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa belanja militer global mencapai sekitar 2,7 triliun dolar AS pada 2024, meningkat 9,4 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. 

Negara-negara berlomba mengembangkan teknologi militer generasi baru, dari rudal hipersonik hingga kemampuan siber. Dari sudut pandang strategis, langkah tersebut dapat dipahami sebagai respons terhadap lingkungan keamanan yang semakin tidak menentu.

Namun, makin besar investasi yang dicurahkan untuk menciptakan keamanan, makin muncul pertanyaan mendasar: apakah dunia benar-benar menjadi lebih aman?

Paradoks perdamaian tidak hanya terlihat pada akumulasi senjata, tetapi juga pada prioritas yang dihasilkannya. Ketika anggaran pertahanan global terus meningkat, dunia pada saat yang sama masih menghadapi perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, kerawanan pangan, pandemi, serta berbagai ancaman nontradisional lainnya. 

Sebagian besar ancaman tersebut tidak mengenal batas negara dan tidak dapat diselesaikan melalui kekuatan militer semata.

Sebesar apa pun anggaran pertahanan yang dimiliki sebuah negara, ia tidak dapat menembak virus, membombardir perubahan iklim, atau menghancurkan bencana ekologis dengan rudal. 

Ancaman terbesar terhadap keamanan manusia dewasa ini sering kali tidak datang dalam bentuk tank atau kapal perang, tetapi dalam bentuk kenaikan suhu bumi, gagal panen, penyakit menular, disrupsi teknologi, dan ketidaksetaraan sosial yang menggerus stabilitas masyarakat.

Tentu tidak realistis mengharapkan negara mengabaikan kebutuhan pertahanannya. Dalam lingkungan internasional yang masih bersifat anarkis, kemampuan mempertahankan diri tetap merupakan prasyarat penting bagi kedaulatan. 

Namun, keamanan abad ke-21 menuntut perspektif yang lebih luas. Sebuah negara mungkin memiliki militer yang kuat, tetapi tetap rentan terhadap krisis kesehatan, kerusakan lingkungan, atau ketahanan pangan yang lemah.

Kategori :