Tiongkok selama ini menyatakan dukungannya terhadap denuklirisasi Semenanjung Korea. Sebaliknya, Pyongyang justru semakin menegaskan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir.
BACA JUGA:BPOM Temukan 2 Juta Kosmetik Ilegal Asal Tiongkok, Nilai Ekonomi Capai Rp27,6 Miliar
BACA JUGA:Dubes RI Dorong Indonesia dan Tiongkok Bangun Ketahanan Bersama Hadapi Transformasi Global
Posisi Korut bahkan semakin keras setelah pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump pada 2019 gagal menghasilkan kesepakatan mengenai program senjata nuklir dan pencabutan sanksi.
Menjelang kedatangan Xi, adik perempuan Kim Jong-un mengingatkan bahwa program nuklir negaranya adalah harga mati. Itulah perbedaan besar antara Beijing dan Pyongyang.
Namun, sejumlah pengamat melihat bahwa prioritas Tiongkok kini mulai bergeser.
Profesor diplomasi Universitas DePaul Minseon Ku menilai Beijing kemungkinan telah menerima kenyataan bahwa Korea Utara adalah negara nuklir. Menurut dia, Xi kemungkinan akan menyampaikan kepada Kim bahwa hal yang paling diinginkan Tiongkok adalah stabilitas.
Pandangan serupa disampaikan peneliti Harvard University Asia Center Seong-Hyon Lee. Menurutnya, Beijing kini lebih fokus menjamin keberlangsungan rezim Korut dibanding berupaya memaksanya meninggalkan senjata nuklir.
Jika sebelumnya denuklirisasi menjadi tujuan utama, kini stabilitas tampaknya menjadi kata kunci baru.
BACA JUGA:Demokrasi dan Pengalaman Tiongkok
Bagi Tiongkok, Korut yang stabil memiliki nilai strategis yang sangat besar. Pyongyang berada tepat di wilayah penyangga antara Tiongkok dan sekutu-sekutu utama Amerika Serikat di Asia Timur, yakni Korea Selatan dan Jepang.
Di tengah meningkatnya rivalitas Beijing dan Washington, posisi geografis Korut menjadi semakin penting.
Apalagi hubungan Tiongkok dan Jepang juga sedang menghadapi ketegangan baru. Situasi itu membuat nilai strategis Korea Utara di mata Beijing terus meningkat.
Pakar Korea Utara dari Universitas Kyungnam Lim Eul-chul menilai bahwa meningkatnya posisi internasional Tiongkok kemungkinan mendorong Beijing untuk menarik Pyongyang lebih aktif ke dalam orbit diplomatiknya.
Dengan kata lain, kunjungan Xi bukan hanya tentang hubungan bilateral. Ini juga tentang bagaimana Tiongkok membangun konfigurasi kekuatan regionalnya untuk tahun-tahun mendatang.