Krisis pendidikan Indonesia saat ini mungkin bukan semata-mata krisis kurikulum, krisis anggaran, atau krisis fasilitas. Di balik semua persoalan tersebut terdapat krisis yang lebih mendalam: krisis makna.
Kita hidup dalam budaya yang semakin mengagungkan angka, sertifikat, ranking, indeks, dan hasil akhir. Semua itu memang penting. Namun ketika indikator-indikator tersebut menjadi tujuan utama, pendidikan semakin kehilangan jiwanya.
Psikologi mengajarkan bahwa manusia berkembang secara optimal ketika ia merasa memiliki tujuan, otonomi, kompetensi, keterhubungan sosial, dan kesempatan untuk bertumbuh. Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari berapa banyak siswa yang lulus, berapa tinggi IPK mahasiswa, atau berapa banyak publikasi yang dihasilkan. Keberhasilan pendidikan juga diukur dari kualitas manusia yang lahir darinya.
Jika sekolah hanya mengajarkan cara mendapatkan nilai, tetapi gagal mengajarkan cara menjadi manusia yang berintegritas, maka kita mungkin sedang menghasilkan generasi yang tampak berhasil di atas kertas, tetapi kehilangan fondasi psikologis yang dibutuhkan untuk membangun masa depan bangsa.
Dan ketika integritas mulai dianggap kurang penting dibanding prestasi, ketika makna belajar kalah oleh obsesi terhadap angka, serta ketika kesehatan mental dikorbankan demi pencapaian akademik, maka mungkin sudah saatnya kita mengakui satu hal yang tidak nyaman untuk didengar: Pendidikan Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja.
*) Dosen Fakultas Psikologi Universitas 45 Surabaya