Dari situ tampak, pelaku jago manipulasi meskipun sudah berstatus tersangka.
Dikutip dari Psychology Today, 9 Juli 2012, berjudul A Psychological Profile of a Poisoner, karya psikolog forensik Amerika Serikat (AS), Joni E. Johnston, diungkapkan karakter pembunuh yang menggunakan senjata racun.
Johnston membuka begini: Meskipun selama ratusan tahun racun telah menjadi cara mudah untuk membunuh, hanya sedikit yang telah ditulis tentang kepribadian pelaku pembunuhan dengan peracunan.
Sebagian dari hal ini mungkin disebabkan kelihaian banyak pembunuh peracun dalam menghindari pihak berwenang. Barulah pada abad ke-20 ilmu forensik sudah berkembang, dan pembunuhan dengan racun gampang terungkap.
Para ahli percaya bahwa jumlah pelaku peracunan yang dihukum hanyalah puncak gunung es. Apa yang tidak kita ketahui tentang peracun jauh lebih banyak, yaitu 20 hingga 30 kali lipat daripada pembunuhan tidak melalui racun.
Maka, para ahli hanya bicara tentang kepribadian para pelaku peracunan yang tertangkap. Dan, yang sudah terpublikasi pers.
Membunuh seseorang dengan racun, pada dasarnya, membutuhkan perencanaan dan tipu daya yang cermat. Tidak mengherankan jika para peracun cenderung licik, cerdik, dan kreatif (mereka dapat merancang rencana pembunuhan sedetail seolah-olah mereka sedang menulis naskah drama).
Baik pelaku pria maupun wanita, mereka cenderung menghindari konfrontasi fisik dan, sebaliknya, mengandalkan manipulasi verbal dan emosional untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari orang lain.
Para pelaku punya kebutuhan kuat untuk mengontrol, fantasi pemenuhan keinginan diri sendiri, dan gaya interpersonal yang egois dan eksploitatif.
Sering kali dimanjakan sejak kecil atau dibesarkan di rumah yang tidak bahagia. Beberapa ahli menyamakan kepribadian pelaku peracunan dengan anak yang bandel, yang keinginannya mengendalikan dan memanipulasi dunia. Cocok dengan kasus itu. (*)