Waspada Learning Loss: Fenomena Candu Gawai saat Libur Sekolah

Jumat 12-06-2026,16:52 WIB
Oleh: Hayani*

Masalah lainnya adalah menurunnya kemampuan konsentrasi anak. Paparan konten digital yang berlebihan, terutama video pendek dengan pergantian informasi yang sangat cepat, membuat otak terbiasa menerima stimulasi instan. Anak menjadi lebih sulit mempertahankan perhatian dalam waktu lama ketika harus membaca buku, mendengarkan penjelasan guru, atau mengerjakan tugas yang membutuhkan ketekunan.

Kondisi ini sejalan dengan teori belajar sosial dari Albert Bandura yang menjelaskan bahwa perilaku individu terbentuk melalui proses observasi dan peniruan. Ketika anak setiap hari terpapar model perilaku yang berorientasi pada hiburan cepat dan kepuasan instan melalui media digital, mereka cenderung meniru pola tersebut. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan usaha lebih besar seperti membaca atau belajar menjadi terasa kurang menarik.

Padahal, liburan seharusnya tidak dimaknai sebagai berhentinya proses belajar. Belajar bukan hanya terjadi di ruang kelas. Belajar adalah proses yang berlangsung sepanjang kehidupan melalui pengalaman, interaksi, dan eksplorasi lingkungan sekitar.

Karena itu, masa liburan perlu tetap diisi dengan aktivitas yang mendukung perkembangan anak. Aktivitas literasi menjadi salah satu pilihan yang sederhana tetapi sangat bermanfaat. Membaca buku cerita, atau berdiskusi tentang bacaan dapat membantu menjaga kemampuan berpikir dan memahami informasi.

Selain itu, anak juga perlu diberikan kesempatan untuk melakukan eksplorasi. Mengunjungi perpustakaan, museum, tempat wisata edukatif, berkebun, memasak bersama keluarga, atau melakukan proyek kreatif sederhana dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Aktivitas seperti ini tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tetapi juga melatih kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan rasa ingin tahu.

Pentingnya keterlibatan orang tua selama masa liburan juga diperkuat oleh teori sosiokultural dari Lev Vygotsky. Vygotsky menekankan bahwa perkembangan kognitif anak sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dengan orang dewasa dan lingkungan sekitarnya. Anak belajar lebih optimal ketika memperoleh pendampingan, arahan, dan dukungan dari orang tua maupun orang dewasa lainnya.

Dalam konteks ini, pendidikan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan lingkungan. Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah dan orang tua menjadi sangat penting selama masa libur sekolah.

BACA JUGA:Strategi Portofolio Energi untuk Mencapai Ketahanan Energi (1)

BACA JUGA:Bocah Perempuan 11 Tahun Dibantai Perampok di Sragen: Pelaku Berpengalaman

Sekolah dapat memberikan panduan aktivitas yang ringan dan menyenangkan kepada siswa selama liburan. Bukan dalam bentuk tugas yang memberatkan, melainkan tantangan sederhana seperti membaca sejumlah buku, menulis jurnal harian, melakukan pengamatan lingkungan, atau membuat proyek kreatif yang sesuai dengan usia anak.

Sementara itu, orang tua berperan sebagai pendamping yang membantu anak menjalankan aktivitas tersebut. Pengawasan penggunaan gawai juga perlu dilakukan secara konsisten. Menentukan batas waktu penggunaan layar dan menyediakan alternatif kegiatan yang menarik dapat membantu anak mengembangkan pola aktivitas yang lebih seimbang.

Pada akhirnya, tujuan liburan bukanlah membuat anak terus-menerus belajar seperti di sekolah, melainkan memberikan kesempatan bagi mereka untuk tumbuh melalui pengalaman yang berbeda. Liburan tetap harus menjadi waktu yang menyenangkan, tetapi juga tetap memberikan stimulasi yang mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak.

Libur sekolah bukan berarti libur belajar. Ketika gawai mulai mengambil alih peran guru dan menjadi sumber utama aktivitas anak, maka kita perlu kembali mengevaluasi bagaimana masa liburan dijalani. Dengan kolaborasi yang baik antara sekolah dan orang tua, liburan dapat menjadi sarana penyegaran sekaligus penguatan proses pendidikan.

Dengan demikian, ketika anak kembali ke sekolah, mereka tidak hanya membawa semangat baru, tetapi juga kesiapan untuk melanjutkan perjalanan belajar dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

*) Kaprodi Fakultas Psikologi Universitas 45 Surabaya.

Kategori :