Libur tlah tiba, libur tlah tiba. Tidak lama lagi siswa di berbagai jenjang pendidikan akan memasuki masa libur kenaikan kelas. Bagi anak - anak, masa liburan adalah momen yang paling dinantikan setelah satu tahun belajar, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, dan menjalani berbagai aktivitas sekolah.
Liburan memang penting karena memberikan kesempatan bagi anak untuk beristirahat, mengurangi kejenuhan, dan memulihkan energi sebelum memasuki tahun ajaran berikutnya.
Namun, di balik kegembiraan tersebut, terdapat fenomena yang semakin mengkhawatirkan. Banyak orang tua dan guru mulai menyadari bahwa libur sekolah sering kali berubah menjadi "libur belajar". Anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu mereka bersama gawai, sementara aktivitas yang merangsang perkembangan kognitif, sosial, dan emosional justru semakin berkurang atau bahkan sama sekali tidak ada.
Saat ini gawai memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Selama masa liburan, durasi penggunaan gawai anak dapat meningkat secara signifikan, bahkan bisa mencapai 6 hingga 10 jam per hari. Waktu yang sebelumnya digunakan belajar di sekolah berganti dengan aktivitas bermain game online, nonton video pendek, atau berselancar tanpa tujuan yang jelas di media sosial.
Fenomena ini semakin sulit dihindari ketika kedua orang tua bekerja. Keterbatasan waktu membuat pengawasan terhadap aktivitas anak selama di rumah menjadi berkurang. Banyak orang tua yang akhirnya memberikan akses gawai lebih longgar agar anak tetap berada di rumah dan tidak mengganggu aktivitas pekerjaan orangtua.
BACA JUGA:Membela ABK dari Ganasnya Bullying
BACA JUGA:Strategi Portofolio Energi untuk Mencapai Ketahanan Energi (2-Habis)
Gawai kemudian menjadi "pengasuh digital" yang menemani anak hampir sepanjang hari.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, menurut Jean Piaget anak membangun pengetahuan melalui interaksi aktif dengan lingkungannya. Proses belajar tidak hanya terjadi melalui menerima informasi, tetapi juga melalui eksplorasi, pengalaman langsung, dan pemecahan masalah. Ketika sebagian besar waktu anak dihabiskan secara pasif di depan layar, kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir melalui pengalaman nyata menjadi berkurang.
Sekilas kondisi ini tampak bukan di anggap masalah. Anak terlihat tenang, tidak rewel, dan tetap berada di lingkungan yang dianggap aman. Namun, jika berlangsung terus-menerus tanpa pengawasan dan pengaturan yang jelas, dampaknya dapat memengaruhi perkembangan anak dalam berbagai aspek.
Dalam psikologi pendidikan dikenal istilah learning loss, yaitu hilangnya atau menurunnya pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari karena tidak digunakan dalam jangka waktu tertentu. Kondisi ini sering terjadi setelah masa libur panjang, terutama pada saat anak sama sekali tidak mendapatkan stimulasi belajar memadai.
Fenomena tersebut juga dapat dipahami melalui teori pemrosesan informasi, yaitu informasi yang tidak digunakan atau tidak diulang cenderung lebih mudah terlupakan dari memori jangka panjang. Karena itu, ketika anak berhenti berinteraksi dengan aktivitas belajar selama beberapa minggu, sebagian materi yang telah dipelajari berpotensi mengalami penurunan dalam ingatan.
Sehingga tidak heran jika pada awal masuk tahun ajaran baru banyak guru mengeluhkan kondisi siswa yang tampak lupa terhadap materi yang sebelumnya telah dipelajari. Konsep-konsep dasar yang telah diajarkan sebelum liburan harus dijelaskan kembali. Akibatnya, waktu pembelajaran yang seharusnya digunakan untuk memasuki materi baru justru tersita untuk melakukan pengulangan.
BACA JUGA:Pembunuhan Motif Begal di Banyuasin Dirancang Sejoli: Efek Asmara Maut
BACA JUGA:Senja Kala Humaniora Gen Z: Menagih Etika Pancasila, Melanjutkan Pemikiran Listiyono Santoso
Guru sering kali menghadapi tantangan besar pada minggu - minggu pertama sekolah. Mereka harus membantu siswa beradaptasi kembali dengan rutinitas belajar, mengembalikan fokus perhatian, sekaligus memperkuat pemahaman yang mulai memudar selama masa liburan. Hal ini tentu menjadi pekerjaan tambahan yang tidak ringan bagi seorang Guru.