Jeda Piala Dunia

Sabtu 20-06-2026,21:53 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Editor : Yusuf Ridho

Lebih runyam lagi yang terjadi di forum G-7, Evian, awal pekan ini. Soal serangan Israel ke Beirut yang nyaris menggagalkan seluruh kesepakatan, Trump bilang terang-terangan ke media bahwa keputusan Netanyahu itu penilaian yang sangat buruk. 

Di forum yang sama, Trump bilang begini: AS itu mitra besar, Israel cuma mitra kecil. Ke New York Times, lebih pendek lagi katanya: Netanyahu itu ”orang yang sangat sulit”.

Sekutu yang ikut berdarah-darah sejak hari pertama perang disebut mitra kecil di depan pemimpin dunia lain. Itu bukan diplomasi. Itu lebih mirip dipermalukan di depan umum.

Anehnya, Netanyahu tidak bisa membalas. Ia masih butuh AS. Yang keluar dari mulutnya cuma kalimat diplomatis: dengan AS kadang sepakat, kadang tidak, namanya juga keluarga besar.

Tapi, di lapangan, ia jalan sendiri. Bahkan, setelah kesepakatan diumumkan, Netanyahu masih menegaskan perjuangan belum selesai. Israel, katanya, akan tetap bertahan di zona-zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza selama dianggap perlu. 

Damai versi Washington ternyata tidak otomatis jadi damai versi Yerusalem.

Di dalam negeri sendiri ia digempur. Mantan Perdana Menteri Ehud Barak bilang, justru kesombongan dan kekeliruan baca situasi Netanyahu yang membuat Israel pulang lebih lemah, sementara Iran pulang lebih kuat. 

Yair Lapid, lawannya di pemilu nanti, ikut menghantam. Survei Israeli Democracy Institute, yang terbit dua pekan lalu, menemukan 57,5 persen warga Israel menilai kesepakatan itu tidak sejalan dengan keamanan negaranya sendiri.

Padahal, coba dihitung baik-baik. Ini sudah kali kedua dalam setahun terakhir Netanyahu mengumumkan kemenangan bersejarah atas Iran. 

Juni tahun lalu, setelah perang dua belas hari, ia bilang program nuklir Iran sudah dikuburnya. Sekarang, setelah perang hampir empat bulan, ia bilang lagi: bahaya itu sudah disingkirkan untuk bertahun-tahun ke depan.

Dua kali menang. Tapi, yang tertulis di atas kertas kesepakatan cuma satu hal: komitmen untuk duduk berunding lagi. Bukan soal nuklir Iran yang selesai. Bukan soal Hizbullah yang dilucuti. Bukan soal Hamas di Gaza yang ikut beres.

Maka, jangan kaget kalau bahkan sekutu Israel sendiri di kawasan justru menjauh. Uni Emirat Arab, yang selama ini paling keras terhadap Iran di antara negara-negara Teluk, malah ikut bergabung mendukung kesepakatan itu. 

Tinggal Netanyahu sendirian yang masih yakin perang seharusnya dilanjutkan.

Begitulah posisi Israel hari ini. Perangnya diakhiri orang lain. Kemenangannya diumumkan sendiri, tapi targetnya belum sepenuhnya tercapai. 

Sekutu-sekutunya di kawasan satu per satu menjauh. Dan, presiden yang katanya sahabat paling dekat, di depan umum, menyebutnya mitra kecil.

Kalau ada yang pantas disebut paling bingung minggu ini, bukan kapten Iran yang cuma ingin ditanya soal bola.

Kategori :