Gebyar Piala Dunia dan Pembelajaran Multikulturalisme

Selasa 23-06-2026,22:47 WIB
Oleh: Biyanto*

Dikatakan Levinas, wajah yang lain itu jelas berbeda dari aku. Namun, hubungan aku dengan wajah yang lain tidak boleh melahirkan kekerasan atau penindasan. 

Sejalan dengan pandangan Levinas, semua agama mengajarkan bahwa menyakiti orang lain sama halnya menyakiti diri sendiri. Begitu sebaliknya, menyayangi orang lain sama dengan menyayangi diri sendiri. 

Kehadiran orang lain justru harus melahirkan kedamaian dan menumbuhkan kultur positif dalam kehidupan. Melalui teori penampakan wajah akan senantiasa tergambar yang lain. 

Penampakan wajah yang lain memungkinkan antarpribadi saling bertegur sapa, bersenda gurau, dan berbela rasa. Penampakan wajah yang lain tidak akan membiarkan seseorang lepas dari tanggung jawab. 

Pada konteks itulah, teori Levinas mengajarkan bahwa perjumpaan dengan wajah yang lain merupakan bentuk hubungan yang ditandai kepedulian dan kecintaan pada nilai-nilai kemanusiaan. 

Hubungan itu menyebabkan seseorang bertanggung jawab terhadap yang lain tanpa menuntut imbalan alias nir-kepentingan.

Dalam perspektif Islam, Nabi Muhammad SAW menegaskan, ”al-mu’minu lil mu’mini kal bunyan yasyuddu ba’dluhu ba’dla” (seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain). Ibarat batu bata yang disusun untuk menopang satu sama lain hingga menjadi bangunan kokoh, begitulah hubungan satu mukmin dengan mukmin lainnya. 

Sepak Bola dan Multikulturalisme

Nilai-nilai multikulturalisme terasa sekali dipraktikkan dalam permainan sepak bola. Semua pemain bahu-membahu dan saling membantu sehingga tidak tampak budaya yang mendominasi. 

Ekspresi yang menunjukkan rasa syukur setiap pemain tatkala memperoleh kesempatan bermain atau mencetak gol juga sangat beragam. Semua ekspresi terasa spontan, autentik, dan dihargai sebagai kekhasan budaya masing-masing pemain atau negara.

Dalam diri setiap pemain juga ada kesadaran untuk bermain dengan menjunjung tinggi sportivitas. Tidak boleh ada kekerasan satu pemain terhadap pemain lain. 

Apalagi, kekerasan itu dilandasi emosi berlatar perbedaan agama, etnis, budaya, atau faktor primordial lainnya. Hukuman bagi pelaku kekerasan sangat jelas, diberikan peringatan atau dikeluarkan dari lapangan pertandingan.

Penonton dapat menikmati pertandingan dan memberikan dukungan penuh kepada tim kesayangan. Meski sejujurnya harus diakui bahwa antar pemain dan penonton sejatinya memiliki perbedaan ideologi maupun sosial budaya. Semua itu menunjukkan betapa penting permainan sepak bola sebagai media untuk menumbuhkan kesadaran multikulturalisme. 

Semoga gebyar Piala Dunia 2026 FIFA menjadi pembelajaran untuk membangun tatanan dunia yang ramah terhadap keragaman sekaligus memuliakan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, peperangan yang menghancurkan capaian peradaban dan nilai-nilai kemanusiaan harus segera diakhiri. (*)

*) Biyanto adalah staf ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antarlembaga Kemendikdasmen dan guru besar UIN Sunan Ampel.

 

Kategori :