Lagu Dai Dai telah mengiringi pembukaan Piala Dunia sekaligus laga perdana yang mempertemukan Meksiko melawan Afrika Selatan di stadion legendaris Estadio Azteca, Mexico City. Nyanyian Dai Dai memberikan pesan pentingnya persatuan dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa.
Urgensi Multikulturalisme
Secara substantif, multukulturalisme dipahami sebagai pengakuan terhadap pluralitas budaya yang menumbuhkan kepedulian sekaligus mengusahakan agar kelompok minoritas terintegrasi dalam masyarakat.
Kelompok mayoritas dalam masyarakat yang majemuk juga wajib mengakomodasi perbedaan kelompok minoritas agar kekhasan identitas mereka tetap terjaga dan diakui (Kymlika, 1989).
Tujuan utama multikulturalisme adalah menjamin beragam komunitas terus bertumbuh dan berkembang sesuai kekhasan masing-masing. Menurut Haryatmoko (2007), setidaknya ada tiga alasan mengapa multikulturalisme penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang begitu majemuk. Apalagi, untuk negeri tercinta yang dikenal sangat majemuk.
Pertama, adanya fenomena penindasan atau penafian atas dasar agama, paham keagamaan, etnis, dan budaya di tengah-tengah masyarakat. Dikotomi antara ”kita” atau ”minna” (kelompok dominan) dan ”mereka” atau ”minhum” (di luar kelompok dominan) sering kali dilembagakan dalam rangka menjauhkan kelompok minoritas dari kekuasaan.
Pelembagaan diskriminasi itu banyak terjadi di wilayah publik seperti pekerjaan, pendidikan, jabatan publik, dan hubungan sosial lainnya.
Kedua, istilah minoritas secara sistematis telah digunakan untuk memarginalkan kelompok tertentu dengan memberi label ”tidak terlalu penting” dalam berhubungan dengan kelompok dominan. Dampaknya, perasaan rendah diri makin terpatri dalam struktur kesadaran kelompok minoritas.
Pada konteks itulah, multikulturalisme ingin menjawab kebutuhan mendasar kelompok minoritas untuk mengembangkan identitas budaya dan memberikan penghargaan terhadap eksistensinya.
Ketiga, kaum migran sering kali menjadi pihak yang dipinggirkan oleh kelompok dominan. Situasi itu kian terasa sejak undang-undang otonomi daerah dilaksanakan.
Apalagi, dalam banyak kasus, implementasi otonomi daerah sering disalahartikan dengan pemihakan atau afirmasi terhadap kepentingan warga pribumi. Akibatnya, terjadi diskriminasi terhadap warga pendatang.
Lebih ironis lagi, rekrutmen pejabat publik sering tidak didasarkan pada integritas, kompetensi, dan rekam jejak, melainkan melalui pertimbangan-pertimbangan yang bersifat primordial. Berdasarkan tiga argumen itulah, kesadaran multikulturalisme perlu digelorakan agar tumbuh sikap saling memahami kekhasan masing-masing.
Meminjam istilah mantan Menteri Agama Abdul Mukti Ali (1923–2004), kita harus berpandangan: agree in disagreement (setuju dalam perbedaan).
Dari Bapak Ilmu Perbandingan Agama itu kita belajar pentingnya toleransi sebagai asas mewujudkan multikulturalisme. Karena itulah, setiap kita harus merayakan dan menghargai perbedaan.
Teori Penampakan Wajah
Dalam memahami kekhasan etnis, budaya, dan agama, selayaknya kita belajar pada pandangan filsuf Prancis, Emmanuel Levinas, dalam karya besarnya, Otherwise than Being or Beyond Essence (1974). Dalam karya itu, Levinas mengenalkan teori tentang penampakan wajah yang lain (face of the other).