BACA JUGA:Potong Kepala Janda Dua Menit
BACA JUGA:Sudah Janda, Masih Dibunuh
Meski negara telah memberikan bantuan berupa tunjangan untuk anak dan bantuan makanan yang diberikan oleh beberapa lembaga nonprofit untuk menyuplai gizi anak, kerja perawatan (care work) tetap menjadi pekerjaan yang berat karena harus dilakukan sendirian.
Dengan kata lain, kehilangan pasangan tidak hanya kehilangan pendamping hidup, tetapi juga kehilangan dukungan dalam mengasuh anak. Menjadi janda tidak berarti peran ibu berhenti. Justru, peran tersebut terus berlanjut dan tidak akan pernah selesai.
Ibu tunggal tetap mengantar anak ke sekolah, mendampingi anak saat belajar, memenuhi kebutuhan emosional sang anak, mencari nafkah, dan bekerja merawat seluruh anggota keluarga.
Kerja perawatan itu sering kali tak terlihat dan dianggap sebagai tugas alami seorang ibu. Namun, justru kerja itulah yang banyak menguras energi dan emosi para ibu karena tidak pernah berakhir.
Pengalaman Jepang memperlihatkan bahwa persoalan ibu tunggal tidak hanya berkaitan dengan kehilangan pasangan atau keterbatasan ekonomi. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana pekerjaan pengasuhan tetap harus dijalankan ketika dukungan pasangan telah hilang.
Pelajaran itu juga relevan bagi Indonesia yang masih menempatkan pengasuhan sebagai tanggung jawab utama seorang ibu.
Menjadi Janda di Indonesia
Tidak berbeda dengan di Jepang, ibu tunggal di Indonesia yang menjanda karena ditinggal mati oleh pasangannya maupun yang bercerai secara hukum juga harus membesarkan anak seorang diri. Menurut Wafa (2025), jumlah ibu Indonesia yang menjadi pencari nafkah tunggal, yang berstatus janda karena cerai hidup maupun cerai mati, mencapai 31,18 persen.
Kelompok itu kemungkinan memiliki beban ekonomi yang lebih berat, terutama jika mereka juga harus membesarkan anak tanpa pasangan. Selain itu, menjadi janda juga berarti bersiap-siap menghadapi stigma sosial bahwa janda merupakan pengganggu rumah tangga orang lain.
Perempuan dengan status cerai hidup atau cerai mati masih dianggap sebagai figur yang mengancam perempuan lain. Tidak hanya itu, keluarga dan negara juga masih belum memberikan dukungan penuh untuk kelangsungan hidup para janda di Indonesia.
Persoalan yang dihadapi ibu tunggal di Indonesia sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi. Banyak ibu tunggal yang harus menghadapi persoalan pengasuhan sehari-hari yang sering kali tidak terlihat, tetapi terasa berat.
Ketika ibu harus bekerja, siapa yang mengantar anak ke sekolah? Ketika anak sakit, siapa yang menjaga anak? Siapa yang bertugas mendampingi anak belajar atau memberikan dukungan emosional ketika mereka kehilangan ayah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pengasuhan seyogianya bukan hanya tanggung jawab pribadi seorang ibu, melainkan juga tanggung jawab bersama yang harus ditanggung keluarga, masyarakat, dan negara.
Oleh karena itu, komunitas yang mendukung ibu tunggal seperti Single Moms Indonesia (SMI) yang didirikan tahun 2014 seakan menjadi oasis yang menguatkan para ibu tunggal.