Hari Janda Internasional: Ketika Ibu Harus Mengasuh Sendirian

Rabu 24-06-2026,07:33 WIB
Oleh: Tia Saraswati*

MUNGKIN tidak banyak yang menyadari bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 23 Juni sebagai Hari Janda Internasional (International Widows Day). Fokus PBB adalah mengingatkan dunia akan pentingnya isu perempuan yang ditinggal mati oleh suami, khususnya perempuan di wilayah konflik dan yang hidup dalam kemiskinan. Bahkan, untuk memperjelas hal itu, 

PBB menyebutkan dalam lamannya bahwa terdapat sekitar 258 juta janda di seluruh dunia dan hampir 10 persen di antaranya hidup dalam kemiskinan ekstrem. Angka itu menunjukkan bahwa kehilangan pasangan karena kematian bukan hanya permasalahan individual, melainkan juga persoalan sosial dan ekonomi yang harus dihadapi para janda di berbagai negara. 

Mengutip Brady dkk, Sohad dan Einat (2025) menyebutkan bahwa ibu tunggal (single mother) didefinisikan sebagai individu yang menjadi kepala rumah tangga tunggal, tidak menikah atau tidak berpasangan, dan tinggal bersama anaknya yang berusia di bawah 18 tahun. 

BACA JUGA:Makin Banyak Janda Usia Sekolah di Jatim, Angka Perceraian Anak Terus Meningkat

BACA JUGA:Alarm Darurat, Janda Usia Sekolah Meningkat

Kemudian, Sohad dan Einat memperlihatkan kategori lain yang ada di bawah ibu tunggal, yaitu ibu yang bercerai secara hukum (divorced mothers), ibu yang ditinggal mati oleh pasangan (widowed mothers), dan ibu yang tidak lagi hidup bersama pasangannya, tetapi belum meresmikannya secara legal (separated mothers). 

Terkait dengan definisi yang sudah dijelaskan, tulisan ini memfokuskan perhatian pada janda yang sekaligus menjadi ibu tunggal.

Kembali pada permasalahan yang menjadi fokus PBB, perempuan yang menjadi janda dan hidup sebagai ibu tunggal menanggung multibeban. Ketika suami meninggal, seorang janda harus berperan sekaligus sebagai pencari nafkah, kepala keluarga, dan pengasuh tunggal. 

BACA JUGA:Kasus Pembunuhan Janda di Sleman, DIY: Putus Cinta Momen Bahaya

BACA JUGA:Ini Problem Janda Pacaran

Hal itu makin memberatkan jika sang ibu berada dalam lingkaran ekonomi rendah dan memiliki banyak anak. 

Ketika Ibu Tunggal Tetap Rentan di Jepang

Jepang, sebagai salah satu negara maju yang masuk kelompok G-7, juga memiliki rumah tangga yang dikepalai ibu tunggal. Dengan jumlah pekerja ibu tunggal sebanyak 86 persen, seharusnya ibu tunggal memiliki tingkat kesejahteraan yang baik. 

Sebaliknya, ibu tunggal yang bekerja tersebut justru berada dalam tingkat kemiskinan sebesar 44,5 persen yang merupakan salah satu tingkat kemiskinan tertinggi di antara negara maju lainnya (Yokota, 2026). Kondisi itu, salah satunya, disebabkan pilihan pekerjaan yang mereka ambil. Mereka memilih pekerjaan paruh waktu supaya bisa tetap mengasuh anak. Konsekuensinya, jumlah pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi standar minimal kehidupan rumah tangga dengan anak. 

Selain itu, tidak semua ibu tunggal menerima tunjangan anak secara merata. Tercatat, hanya 28,1 persen rumah tangga yang menerima tunjangan tersebut. 

Kategori :