Era Baru Hubungan Indonesia-Rusia: Non-Aligned dalam Dunia Multipolar

Rabu 24-06-2026,09:33 WIB
Oleh: Sonny Fadli*

ARTIKEL ini adalah lanjutan tulisan saya yang dimuat Harian Disway bulan lalu dengan judul Victory Day dan Kemerdekaan RI yang lebih menceritakan hubungan persahabatan Indonesia dan Uni Soviet atau Rusia dalam bukti-bukti sejarah. Pada tulisan kali ini, saya lebih membahas hubungan strategis Indonesia dan Rusia, khususnya di era pemerintahan Prabowo-Gibran.

Hubungan diplomatik Indonesia dan Uni Soviet atau Rusia dimulai pada 3 Februari 1950. Berarti, hubungan kedua negara kini sudah berusia 75 tahun. Hubungan Indonesia dan Rusia membaik pascareformasi dan saya melihat makin lebih baik di era pemerintahan saat ini. 

Ibarat kata, hubungan Indonesia dan Rusia sedang memasuki fase manis-manisnya. Saya berharap agar rasa manis itu bisa sampai kepada masyarakat Indonesia dan Rusia di saat ini dan di masa depan.

Indonesia Bergabung BRICS

Sebuah langkah berani Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk membawa Indonesia bergabung ke dalam BRICS, kelompok kerja sama ekonomi dan geopolitik antarnegara berkembang (Global South). BRICS sendiri adalah akronim dari negara pendiri, yakni Brasil, Rusia, India, China (Tiongkok), dan South Africa (Afrika Selatan). 

BACA JUGA:Victory Day dan Kemerdekaan RI: Cara Membaca Persahabatan Indonesia-Rusia

BACA JUGA:Analisis dan Harapan Konstuktif dari Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia

Diawali dengan keikutsertaan Presiden Prabowo pada KTT BRICS pada 6–7 Juli 2025 di Rio de Janeiro, Brasil. Sebagai kelanjutannya, diterima dan tercatat sebagai anggota ke-10 BRICS pada 6 Januari 2025.

Bergabungnya Indonesia ke BRICS memberikan peluang Indonesia untuk berkibar dalam pergaulan internasional. Keuntungan perdagangan dan investasi yang melibatkan negara-negara anggota dan calon anggota BRICS, ketahanan ekonomi khususnya stabilitas mata uang dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada negara barat, akses kerja sama di bidang pendidikan, kesehatan, dan bahkan keamanan bisa didapat Indonesia.

Sambutan Hangat Rusia untuk Indonesia

Pada Juni 2025, sebulan sebelum KTT BRICS, Presiden Prabowo mendapat kesempatan sebagai guest of honour atau tamu utama, mendapat kesempatan berpidato pada Sesi Pleno St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) Tahun 2025. Itu mencerminkan bahwa Indonesia adalah mitra strategis Rusia saat ini dan di masa depan. Dalam forum tersebut, ada beberapa pernhyataan presiden RI yang akan saya kutip.

One thousand friends, too few. One enemy, too many.” Kalimat itu merepresentasikan filosofi politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, yang tidak memihak blok mana pun.

BACA JUGA:Peran Krusial Penerbang TNI dalam Misi Kemanusiaan: Sayap-Sayap Pelindung Nusantara

BACA JUGA:Perang Rusia-Ukraina, Jokowi Melerai

We consider that this world must develop into a multipolar world… The world of unipolar centrality is past. This is the trend of history…. Russia and China have never had double standards. Russia and China have always defended the downtrodden, have always defended the oppressed, and have always fought for the justice of all peoples of the world. So, I say this from my heart.” 

Kategori :