Di tengah berbagai keterbatasan regulasi pada masa itu, Khatami memilih membangun perubahan melalui penguatan nilai-nilai keagamaan yang menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang saling menghormati, melindungi, dan bekerja sama.
BACA JUGA:Nobar Film Jangan Buang Ibu: Gubernur Khofifah Sebut Tontonan yang Baik Bisa menjadi Tuntunan
“Pada masa itu tidak ada anggota parlemen perempuan di Iran. Jadi memang harus sesuatu yang bersifat transformatif, yang diinisiasi dan di execute oleh Kepala Pemerintahan dan itu adalah Presiden Khatami,” jelasnyi.
Khofifah menambahkan, Muhammad Khatami adalah sosok pemimpin transformasi yang juga dikenal sebagai seorang ulama, memilih melakukan transformasi pemikiran melalui diseminasi nilai-nilai keagamaan yang menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang saling melindungi dan menghormati.
“Beliau mentransformasikan proses yang sulit sebetulnya karena menembus barikade regulasi yang tidak mudah. Kemudian beliau membangun kesadaran publik, hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna yang bermakna bahwa kalian calon suami istri kalian harus saling memproteksi, nasihat itu tersebar dengan bahasa yang lebih soft dan menempatkan egalitarianisme,” ungkapnya.
“Selain itu, beliau juga mengedepankan prinsip wa ‘asyiruhunna bil ma’ruf yang mengajarkan pentingnya memperlakukan perempuan dengan baik dan penuh penghormatan,” katanya.
BACA JUGA:Khofifah Borong Dua Penghargaan Disway Top Regional Leader Awards 2026
Gubernur Khofifah mengajak seluruh peserta PKN Tingkat I untuk menjadi pemimpin yang mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat-Humas Pemprov Jatim-
Maka, melalui referensi Al Qur’an yang didiseminasikan secara luas itu, Khofifah mengungkap bahwa Presiden Iran Mohammad Khotami saat itu berhasil membangun cara pandang baru. Dia menilai, perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari regulasi yang kompleks, tetapi bisa dimulai dari transformasi cara berpikir masyarakat.
Khofifah pun menilai, kepemimpinan transformatif tidak hanya berbicara tentang kewenangan dan kebijakan, tetapi juga kemampuan mempengaruhi, menginspirasi, dan membangun kesadaran kolektif untuk bergerak menuju kondisi yang lebih baik.
“Menurut saya beliau adalah pemimpin transformatif. Mereka yang mampu menemukan jalan perubahan di tengah keterbatasan. Ketika regulasi sulit ditembus, dibutuhkan pendekatan yang mampu membangun kesadaran dan perspektif baru di masyarakat,” tegasnyi.
Gubernur Khofifah mengajak seluruh peserta PKN Tingkat I untuk menjadi pemimpin yang mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
BACA JUGA:Khofifah Gelontorkan Rp32,16 Miliar ke Ngawi, Perkuat Daya Beli dan Ketahanan Ekonomi Warga
Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN LAN RI Tri Widodo Wahyu Utomo menyampaikan apresiasi atas komitmen Gubernur Khofifah dalam mendorong penguatan kapasitas aparatur sipil negara di Jawa Timur.
Kepemimpinan Gubernur Khofifah menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan kompetensi ASN sebagai fondasi penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang profesional, adaptif, dan responsif.