PASTI banyak yang baru tahu ada negara bernama Cabo Verde. Itu setelah tim nasional sepak bolanya mampu menembus 32 besar di Piala Dunia. Bahkan, lebih dulu lolos babak berikutnya ketimbang negara yang pernah menjajahnya, Portugal.
Cabo Verde –dulu dikenal dengan Cape Verde– merupakan negara kepulauan di Samudra Atlantik. Berada di lepas pantai barat Afrika. Berhadapan dengan Senegal. Penduduknya hanya 500 ribu jiwa. Sepertujuh dari penduduk Kota Surabaya.
Negeri itu baru merdeka pada 1975. Berhasil membangun demokrasi dengan multipartai yang stabil pada 1990. Itulah yang menjadi keunggulan Cabo Verde jika dibandingkan dengan negara-negara Afrika lain yang banyak dilanda konflik pasca kemerdekaannya.
BACA JUGA:Jadwal Lengkap Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Live di WIB: Jalur Neraka Resmi Terbentuk!
BACA JUGA:Sejarah! Tanjung Verde vs Arab Saudi 0-0: Tim Debutan Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Jauh bila dibandingkan dengan negeri kita. Cabo Verde tak punya sumber daya alam. Itu negara dengan 10 pulau vulkanik yang kecil. Hanya 10 persen wilayah yang bisa ditanami. Penghasilan utamanya dari jasa, pariwisata, transportasi laut, dan investasi asing.
Devisa bersumber dari diaspora yang tinggal di Amerika Serikat dan Eropa. Banyak warganya yang tinggal di Amerika Serikat, Portugal, Prancis, Belanda, dan negara-negara Eropa lainnya. Mereka itu tidak hanya mengirimkan uang ke negerinya. Tapi, juga membawa pengalaman profesional, pendidikan, dan talenta olahraga ke negerinya.
Bagaimana negara kecil dengan penduduk seuprit bisa mempunyai timnas sepak bola yang hebat? Apakah diaspora itu yang membuat Cabo Verde berhasil mengirimkan timnas yang tangguh di Piala Dunia 2026? Apa pelajaran yang bisa kota ambil dari pengalaman Cabo Verde ini?
BACA JUGA:Profil Timnas Tanjung Verde, Kepulauan Kecil di Atlantik yang Lolos ke Piala Dunia 2026
BACA JUGA:Uruguay vs Cape Verde 2-2: La Celeste Gagal Menang Lagi, Posisi Terancam
Tampaknya, keberhasilan sepak bola sebuah negara tidak ditentukan oleh besar kecilnya wilayah atau jumlah penduduk. Jika ukuran negara menjadi penentu, semestinya India dan Tiongkok menjadi raksasa sepak bola dunia.
Faktanya tidak demikian. India dengan lebih dari 1,4 miliar penduduk belum pernah tampil di Piala Dunia. Tiongkok yang memiliki populasi hampir sama juga belum mampu menjadi kekuatan sepak bola yang konsisten.
Banyak negara kecil yang justru mampu mencetak sejarah. Uruguay yang berpenduduk sekitar 3,5 juta jiwa dua kali menjadi juara dunia. Kroasia dengan 4 juta penduduk menjadi finalis Piala Dunia 2018. Islandia dengan 400 ribu jiwa pernah lolos ke Piala Dunia.
Kini Cabo Verde menambah daftar negara kecil yang membuktikan bahwa ukuran bukanlah segalanya. Semua itu membuktikan bahwa sepak bola modern lebih ditentukan oleh kualitas sistem daripada besarnya populasi.
BACA JUGA:Profil Vozinha, Kiper Cape Verde yang Bikin Spanyol Frustasi di Piala Dunia 2026