Indonesia memiliki jutaan diaspora dan keturunan Indonesia yang tersebar di Belanda maupun berbagai negara lain. Sebagian tumbuh dalam lingkungan sepak bola Eropa yang jauh lebih kompetitif daripada Indonesia.
Mengajak mereka memperkuat tim nasional tidak berarti mengabaikan pemain lokal. Sebaliknya, mereka menghadirkan standar profesional yang lebih tinggi dan membawa pengalaman bertanding di liga-liga terbaik dunia.
Dalam ilmu pembangunan, strategi seperti itu dikenal sebagai brain gain. Yakni, memanfaatkan sumber daya manusia diaspora untuk mempercepat kemajuan negara asal. Jika di ekonomi ada transfer teknologi, di sepak bola terjadi transfer budaya profesional.
Karena itu, langkah Indonesia memanfaatkan diaspora tak perlu diperdebatkan lagi. Pengalaman Cabo Verde justru membuktikan bahwa strategi tersebut memang tepat. Namun, diaspora tidak boleh menjadi satu-satunya sandaran.
Indonesia tidak mungkin selamanya mengandalkan pemain yang lahir dan dibesarkan di luar negeri. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki modal yang jauh lebih besar daripada Cabo Verde, yakni populasi lebih dari 280 juta jiwa.
Dengan jumlah penduduk sebesar itu, Indonesia sesungguhnya memiliki cadangan bakat yang luar biasa. Persoalannya bukan kekurangan pemain, melainkan belum optimalnya sistem menemukan, membina, dan mengembangkan pemain sejak usia dini.
Di sinilah agenda reformasi berikutnya harus difokuskan. Apa itu? Kompetisi usia muda harus berlangsung sepanjang tahun. Setiap klub profesional wajib memiliki akademi yang benar-benar hidup.
Kualitas pelatih usia dini harus terus ditingkatkan. Pencarian bakat harus menjangkau seluruh daerah. Ilmu olahraga modern, mulai nutrisi, psikologi, analisis data, hingga sport science perlu menjadi bagian dari pembinaan.
Jika Indonesia mampu menggabungkan tiga kekuatan –diaspora, tata kelola, dan pembinaan usia dini– sekaligus, peluang menjadi kekuatan sepak bola Asia makin terbuka. Bahkan, berlaga di panggung dunia.
Yang juga penting, kita perlu percaya penuh dengan pelatih yang telah dipilih. Bukan percaya kepada pelatih dadakan yang lahir setiap laga timnas berlangsung. Para komentator berlagak pelatih yang merasa strategi merekalah yang paling benar. (*)