Perusahaan-perusahaan teknologi berlomba-lomba menciptakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Tetapi, kehadiran mesin cerdas itu menggerus fondasi perusahaan. Yakni: karyawan manusia.
TAK ada yang salah dengan laba Meta. Dalam tiga bulan pertama 2026, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu mengantongi laba bersih lebih dari USD26 miliar. Hampir 98 persen pendapatannya masih ditopang bisnis iklan yang terus mengalir.
Namun, di balik laporan keuangan yang terlihat sehat itu, suasana di dalam perusahaan justru bergerak ke arah sebaliknya. Ketakutan, kemarahan, dan kelelahan menjadi cerita yang beredar di antara para karyawan. Ironisnya, semua itu muncul ketika Meta sedang menggelontorkan investasi terbesar dalam sejarah perusahaan untuk mengejar dominasi kecerdasan buatan (AI).
Sejak awal 2025, gelombang efisiensi datang berturut-turut. Pada musim semi tahun ini, Meta memangkas sekitar 8.000 pekerja atau hampir 10 persen dari total karyawannya. Di saat yang sama, sekitar 7.000 pegawai lain dipindahkan ke unit AI.
BACA JUGA:Ketika Kecerdasan Buatan Mulai Mengisi Ruang Sepi Manusia: Indonesia Lebih Terbuka Pada ’’Pacar AI’’
BACA JUGA:Seni di Antara Manusia dan Kecerdasan Buatan
Perpindahan itu bukan sekadar rotasi pekerjaan. Banyak pegawai mengaku menghabiskan waktu mengerjakan tugas-tugas yang monoton demi melatih mesin. Sebagian bahkan merasa sedang membantu menciptakan sistem yang suatu hari akan menggantikan pekerjaan mereka sendiri.
Di tengah euforia AI, muncul paradoks baru. Manusia bekerja untuk membangun mesin yang berpotensi mengurangi kebutuhan terhadap manusia.
Paradoks itu semakin terasa ketika Meta meluncurkan Model Capability Initiative pada April 2026. Program tersebut dirancang untuk mempelajari bagaimana karyawan bekerja agar agen AI dapat meniru proses tersebut. Sistem tersebut merekam klik, ketikan, hingga aktivitas penelusuran pegawai.
Secara teknis, gagasan itu terdengar masuk akal. Model AI memang membutuhkan contoh perilaku manusia untuk belajar. Mark Zuckerberg bahkan membelanya dalam rapat internal. Menurut dia, model AI belajar dengan mengamati orang-orang pintar menyelesaikan pekerjaan.
META QUEST 3, kacamata VR buatan Meta, ketika dipamerkan di Shanghai, 27 Maret 2026.-JADE GAO-AFP-
Namun, bagi para pegawai, persoalannya bukan sekadar teknologi. Yang dipertanyakan adalah batas antara pelatihan AI dan pengawasan terhadap manusia.
Lebih dari 1.600 pegawai menandatangani petisi penolakan. Sebagian menyebut perusahaan telah berubah menjadi "pabrik ekstraksi data". Program tersebut akhirnya dihentikan sementara setelah percakapan pribadi dan data kinerja pegawai sempat dapat diakses secara lebih luas di lingkungan internal perusahaan. Risiko itu juga berpotensi menarik perhatian regulator Eropa karena melibatkan data lintas negara.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa perlombaan AI kini bukan hanya soal membangun model yang paling cerdas. Ia juga menyangkut kepercayaan. Dan kepercayaan jauh lebih sulit dibangun daripada sekadar membeli ribuan chip komputasi.
Padahal, biaya yang dikeluarkan Meta untuk mengejar AI terus melonjak. Tahun ini perusahaan berencana menginvestasikan hingga USD145 miliar untuk infrastruktur AI, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.