Generasi Digital yang Kontrang-kantring

Generasi Digital yang Kontrang-kantring

ILUSTRASI Generasi Digital yang Kontrang-kantring.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

DALAM bahasa Jawa, ada istilah kontrang-kantring. Istilah itu menggambarkan seseorang yang berjalan ke sana kemari tanpa arah yang pasti. Bukan karena malas atau tidak mau berusaha, melainkan karena kehilangan penunjuk jalan. Ia terus bergerak, tetapi tidak benar-benar tahu ke mana harus melangkah.

Istilah itu terasa makin relevan untuk membaca situasi generasi digital Indonesia. Paradoksnya, mereka adalah generasi yang paling terkoneksi sepanjang sejarah. 

Informasi tersedia sepanjang waktu, teknologi digital makin canggih, dan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang baru untuk belajar, bekerja, dan berkreasi. Namun, di tengah semua kemudahan itu, satu pertanyaan justru kian sering terdengar, ”setelah lulus nanti saya akan menjadi apa?”

Kegelisahan itu bukan sekadar persoalan individu. Ia merupakan gejala sosial. Banyak lulusan yang memasuki dunia kerja dengan membawa ijazah, tetapi tanpa kepastian arah. Mereka memiliki akses informasi yang melimpah, tetapi belum tentu memiliki orientasi. Mereka tidak kekurangan teknologi, tetapi kekurangan kompas.

BACA JUGA:Menembus Ilusi Generasi Digital: Tantangan Adaptasi di Era Disrupsi Teknologi

BACA JUGA:Sound of Borobudur for Kids, Ketika Relief Menjadi Guru Musik bagi Generasi Digital

Namun, sesungguhnya kondisi itu tidak lahir karena generasi muda kurang berusaha. Mereka mengikuti pelatihan, membangun portofolio, menguasai keterampilan digital, bahkan bekerja sejak masih kuliah. 

Persoalannya terletak pada perubahan yang berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan sistem pendidikan, pasar kerja, dan kebijakan publik dalam mempersiapkan mereka. Mereka bukan generasi yang lemah, melainkan generasi yang dipaksa mencari jalan ketika petanya terus berubah.

Ketika Dunia Berubah Lebih Cepat

Perubahan terbesar terjadi pada dunia kerja. Pola lama –sekolah, kuliah, bekerja, lalu pension– semakin kehilangan relevansinya. Kini seseorang dapat berganti profesi beberapa kali sepanjang hidupnya. Belajar bukan lagi tahap awal kehidupan, melainkan proses yang berlangsung terus-menerus.

Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan, sekitar 22 persen jenis pekerjaan akan berubah hingga 2030 akibat perkembangan AI, otomatisasi, dan transformasi digital. 

BACA JUGA:SEA-blings: Solidaritas Generasi Digital ASEAN yang Menguatkan Ojol Indonesia

Sebagian pekerjaan akan hilang, sedangkan pekerjaan baru akan lahir. Karena itu, keunggulan seseorang tidak lagi ditentukan oleh gelar semata, melainkan oleh kemampuannya beradaptasi.

Masalahnya, perubahan dunia kerja tidak selalu diikuti perubahan dunia pendidikan. Keberhasilan perguruan tinggi masih sering diukur melalui jumlah lulusan, indeks prestasi, akreditasi, atau lama studi. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah lulusan benar-benar siap menghadapi dunia yang mereka masuki?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: