Generasi Digital yang Kontrang-kantring

Generasi Digital yang Kontrang-kantring

ILUSTRASI Generasi Digital yang Kontrang-kantring.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Fenomena pengangguran terdidik menunjukkan bahwa pendidikan formal belum otomatis menjadi jembatan menuju pekerjaan yang relevan. Kampus tidak cukup hanya bangga meluluskan mahasiswa tepat waktu. 

Kampus juga harus mengetahui ke mana alumninya melangkah, kompetensi apa yang dibutuhkan industri, dan bagaimana perubahan itu diterjemahkan ke dalam proses pembelajaran.

Ketika Informasi Tidak Lagi Menjadi Jawaban

Di saat yang sama, generasi digital hidup dalam banjir informasi. Ironisnya, informasi yang melimpah tidak selalu menghasilkan kejelasan arah. Media sosial setiap hari memperlihatkan kisah sukses: diterima di perusahaan besar, memperoleh beasiswa luar negeri, membangun bisnis, atau meraih penghasilan fantastis di usia muda. 

Yang hampir tak pernah terlihat adalah kegagalan, penolakan, atau kecemasan panjang yang menyertai proses tersebut.

Akibatnya, banyak anak muda yang membandingkan kehidupan nyata mereka dengan versi terbaik kehidupan orang lain. Penelitian mengenai social comparison menunjukkan bahwa paparan semacam itu dapat memperbesar kecemasan terhadap masa depan. 

Generasi digital akhirnya tidak hanya menghadapi perubahan dunia kerja, tetapi juga tekanan psikologis akibat standar keberhasilan yang dibentuk algoritma.

Karena itu, persoalan utama mereka bukan kekurangan informasi, melainkan kesulitan mengelola informasi. Mereka membutuhkan kemampuan membaca realitas, bukan sekadar mengonsumsi konten.

Membangun Ekosistem dan Tuntutan Adaptasi

Transformasi digital kerap dipahami sebatas pembangunan infrastruktur, kecepatan internet, jumlah pengguna aplikasi, atau besarnya nilai ekonomi digital. Padahal, ukuran yang lebih penting adalah kesiapan manusia Indonesia hidup dan berkembang di dalamnya.

Teknologi mengubah cara bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan memandang masa depan. Karena itu, ketika negara mendorong digitalisasi, pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya seberapa cepat transformasi berlangsung, melainkan juga siapa yang siap memanfaatkan peluang, siapa yang tertinggal, dan siapa yang menanggung risikonya.

Transformasi digital tidak boleh hanya melahirkan pengguna teknologi. Ia harus melahirkan pencipta nilai. Di sinilah negara tidak cukup sekadar mendorong anak muda meningkatkan keterampilan, tetapi juga membangun ekosistem yang mempertemukan pendidikan, industri, dan pasar kerja agar kompetensi mereka benar-benar berkembang.

Anak muda memang harus adaptif. Mereka perlu menguasai AI, teknologi baru, dan kemampuan komunikasi. Namun, tuntutan beradaptasi tidak boleh menutupi kelemahan sistem. 

Tidak adil jika mereka terus diminta menjadi lebih siap, sedangkan kurikulum bergerak lambat, informasi pasar kerja terbatas, dan hubungan kampus dengan dunia industri masih lemah.

Kekhawatiran saya bertambah ketika melihat besarnya jumlah generasi muda yang disebut sebagai bonus demografi. Bonus itu tidak akan otomatis menjadi bonus pembangunan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: