Walau begitu, Heri mengakui bahwa kesadaran ekologis ini belum sepenuhnya tumbuh di kalangan warga desa.
BACA JUGA:Oleh-oleh dari Eksotika Bromo (13-Habis): Singgah di Shelter Kopi Bromo
BACA JUGA:'Kopi Kok Asem?': Mengapa Arabika Sering Kalah Sebelum Diminum
“Petani mungkin belum menyadari manfaat ekologisnya. Tapi ketika ekonomi meningkat, kami berharap mereka juga semakin memahami manfaat lain yang dimiliki tanaman ini bagi lingkungan,” tambahnya.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bahwa pembangunan ekonomi masyarakat tidak harus berjalan berlawanan dengan pelestarian lingkungan.
Budidaya kopi di Lereng Bromo menjadi contoh nyata implementasi pembangunan berkelanjutan, di mana peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan dengan upaya mitigasi bencana dan pelestarian ekosistem.
Model ini menunjukkan bahwa komoditas lokal seperti kopi mampu menjadi instrumen penting dalam mewujudkan agenda pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat lokal maupun global. (*)