SETIAP TAHUN perguruan tinggi di Indonesia meluluskan ratusan ribu sarjana, magister, doktor, dan lulusan vokasi. Sebagai gambaran saja, menukil data PD Dikti yang dirilis April 2026, jumlah mahasiswa lulus tahun 2024 sebanyak 359.629 orang yang berasal dari berbagai universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, dan politeknik.
Sepintas, jumlah itu adalah kabar baik. Artinya, makin banyak warga negara yang mengenyam pendidikan tinggi, menggambarkan makin tingginya kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Namun, di balik setiap seremoni wisuda, ada kegelisahan yang tidak bisa diabaikan. Gelar akademik tidak selalu menjadi tiket otomatis menuju pekerjaan yang layak. Sebagian lulusan masih harus menghadapi masa tunggu kerja yang panjang.
Pengangguran terbuka (TPT) lulusan perguruan tinggi mencapai 5,38 persen, lebih tinggi daripada angka TPT nasional sebesar 4,74 persen (BPS, 2026). Sementara itu, sebagian lainnya harus bekerja di bidang yang jauh dari disiplin ilmu yang ditempuh selama kuliah.
BACA JUGA:Keterbukaan Adalah Fondasi Kepemimpinan: Ijazah, Keterbukaan, dan Hak Rakyat untuk Mengetahui
BACA JUGA:Ijazah dan Dinamika Perpolitikan di Indonesia
Ada sarjana yang bekerja tidak sesuai kompetensi, ada lulusan perguruan tinggi yang harus memulai dari pekerjaan yang tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan tinggi, dan ada pula yang masih terus mencari ruang untuk membuktikan kemampuan dirinya.
Fenomena itu bukan soal lulusan tidak mau bekerja keras. Sebab, persoalannya lebih dalam daripada itu. Ada jarak yang masih lebar antara dunia kampus dan dunia kerja. Kampus bergerak dengan logika kurikulum, semester, satuan kredit, dan administrasi akademik.
Sementara itu, dunia kerja bergerak dengan kebutuhan yang lebih cepat dan dinamis; teknologi baru, model bisnis baru, pola kerja baru, dan keterampilan baru yang muncul dalam hitungan bulan.
Di titik itulah pendidikan tinggi perlu melakukan refleksi. Apakah mahasiswa hanya disiapkan untuk lulus mata kuliah atau juga disiapkan untuk membuktikan kompetensi? Apakah ijazah masih cukup menjadi satu-satunya bukti kemampuan? Apakah dunia kerja dapat memahami secara jelas apa yang sebenarnya bisa dilakukan seorang lulusan?
BACA JUGA:Pemakzulan Wapres dan Kasus Ijazah Jokowi: Sebuah Psikologi Politik
BACA JUGA:Boyongan Ijazah Jokowi
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena masalah utama pendidikan tinggi hari ini tidak hanya bagaimana meluluskan mahasiswa, tetapi juga bagaimana memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan, terukur, dan dapat dikenali masyarakat serta dunia kerja. Untuk memecahkan persolan tersebut, tentu kampus harus berkolaborasi dengan industri dengan lebih efektif.
Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran
Selama ini hubungan antara perguruan tinggi dan industri sering dibungkus dalam narasi besar: link and match, kerja sama strategis, magang, kelas industri, kurikulum berbasis kompetensi, hingga hilirisasi riset. Semua itu tentu penting.