Kembali Pada Qonun Asasi, Pulang Pada Marwah Pesantren

Sabtu 04-07-2026,15:24 WIB
Oleh: Gus HM. Nasruddin Anshoriy Ch

Ketika menjelang Muktamar suasana menjadi memanas, elite PBNU harus "pulang" ke pesantren. Pulang di sini bukan sekadar mudik geografis, melainkan pulang secara mental dan spiritual. Pulang pada kesederhanaan berpikir para santri, pulang pada ketundukan etis di hadapan ilmu, dan pulang pada keheningan sujud malam para kiai sepuh. Marwah pesantren tidak boleh digadaikan demi kemenangan elektoral faksional yang berumur pendek.

Dialektika Al-Ittihad dan Ukhuwwah Jam'iyyah

Menghadapi dinamika Muktamar, tradisi fikih dan tasawuf NU telah menyediakan mitigasi konflik yang sangat kokoh melalui kaidah Al-Ittihad (Persatuan) dan Ukhuwwah Jam'iyyah (Persaudaraan Organisasional).

Dalam kitab "Mawaid" karya Hadratussyaikh, beliau mengutip ayat-ayat persatuan dengan sangat bergetar. Al-Ittihad dalam konteks filosofis NU bukan berarti penyeragaman pikiran (uniformity), melainkan keselarasan gerak dalam keragaman (harmony in diversity). Perbedaan pandangan menjelang Muktamar adalah niscaya, namun ia menjadi destruktif ketika ego faksional mengoyak rajutan persaudaraan.


--

Di sinilah Ukhuwwah Jam'iyyah bekerja sebagai imperatif etis. Kaidah ini menuntut bahwa di atas segala syahwat politik dan perbedaan strategi, ada ikatan ideologis, nasab keilmuan, dan sumpah setia kepada para pendiri NU yang tidak boleh diputuskan.

"Perpecahan adalah pangkal kelemahan, kekalahan, dan kegagalan di sepanjang zaman," tulis Hadratussyaikh dalam Qonun Asasi.

Jika elite PBNU saling menegasikan, saling menjatuhkan, dan menggunakan narasi yang membelah demi memenangkan kontestasi Muktamar, maka mereka sedang melakukan pembangkangan ontologis terhadap wasiat para pendiri.

Muktamar sebagai Ritualitas Taubat An-Nasuha Organisasi

Muktamar tidak boleh diturunkan derajatnya hanya menjadi sekadar "pasar malam politik" lima tahunan. Muktamar harus diletakkan kembali sebagai panggung khidmah tertinggi, sebuah momentum transendental untuk melakukan otokritik dan pembersihan diri (_tazkiyatun nafs_) secara kolektif.

Seruan ini mengetuk pintu hati para elite PBNU: tengoklah kembali lembaran-lembaran kuning Qonun Asasi. Tataplah mata jutaan santri dan warga nahdliyin di akar rumput yang kehidupan ekonominya mungkin masih sulit, namun cintanya pada NU tak pernah pamrih. 

Saatnya menurunkan ego, meredam ambisi pribadi, dan menyatukan kembali barisan. Mari bawa Muktamar ini pulang ke pangkuan Marwah Pesantren, di mana kebenaran ditegakkan dengan kelembutan, dan kepemimpinan dipilih bukan karena ketamakan, melainkan karena kesiapan untuk memikul beban amanah umat. (*)

 

Kategori :