Microsoft juga menghadapi lonjakan biaya dalam pengembangan game AAA. Saat ini, pembuatan satu judul gim berskala besar membutuhkan anggaran yang jauh lebih tinggi.
Tim pengembang semakin besar, proses produksi semakin panjang, dan biaya operasional terus meningkat.
BACA JUGA:Xbox Janji Ungkap Elder Scrolls VI
BACA JUGA:ROG Xbox Ally X20 Resmi Diumumkan, Bawa Layar OLED dan Kacamata Pintar
Karena itu, Microsoft ingin menyederhanakan struktur organisasi. Sehingga proses pengembangan game menjadi lebih efisien.
4. Terlalu Banyak Studio Setelah Akuisisi
Dalam beberapa tahun terakhir Microsoft mengakuisisi banyak studio game besar. Langkah tersebut memang memperkuat portofolio Xbox. Tetapi juga membuat pengelolaan organisasi menjadi semakin kompleks dan mahal.
Melalui restrukturisasi itu, Microsoft berencana memisahkan sebagian studio. Kemudian mengurangi lapisan manajemen. Operasional pun menjadi lebih ramping.
5. Fokus pada Profitabilitas Jangka Panjang
Microsoft menegaskan tujuan utama restrukturisasi. Yakni untuk membangun bisnis Xbox yang lebih sehat dan berkelanjutan hingga 2027.
BACA JUGA:Harga Steam Deck OLED Naik Drastis, Bisa Picu Kenaikan Harga PS6 dan Xbox Helix
BACA JUGA:Xbox Dikabarkan Siapkan Fitur Kode Digital untuk Game Fisik di Konsol Masa Depan
Perusahaan kini lebih memilih organisasi yang lebih kecil. Tetapi mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
Di sisi lain, Microsoft memastikan investasi tetap akan difokuskan pada sektor-sektor lain. Terutama yang dinilai memiliki prospek tinggi.
Seperti kecerdasan buatan (AI), cloud gaming, layanan berlangganan, serta pengembangan gim dari studio internal.
Restrukturisasi Microsoft diperkirakan akan membawa perubahan besar terhadap industri gim global. Beberapa dampak diperkirakan akan terjadi.
BACA JUGA:Xbox Game Pass Starter Edition Bocor, Pelanggan Discord Nitro Bisa Akses Gratis
BACA JUGA:Pendapatan Gaming Microsoft Naik Meski Penjualan Konsol Xbox Turun 25 Persen