Cheng Yu Pilihan Editor Harian Disway: Zhi Lu Wei Ma

Jumat 10-07-2026,06:00 WIB
Reporter : Annie Wong & Novi Basuki
Editor : Indria Pramuhapsari

HARIAN DISWAY - Selain tiran, tertutupnya pemimpin pada kritik dan hanya mau percaya pada pihak tertentu atau opini yang sejalan dengan pandangannya sendiri (echo chamber), juga merupakan musabab suatu negara bisa runtuh.

Paling tidak, itulah pelajaran yang bisa kita petik dari dialog antara Kaisar Taizong dari Dinasti Tang dengan Wei Zheng, perdana menteri sekaligus penasihatnya selama belasan tahun, yang termaktub dalam bab pertama Zhenguan zhengyao (贞观政要), kitab politik klasik yang disusun Wu Jing, sejarawan Dinasti Tang.

Di sana ditulis, pada 628, tepat dua warsa Kaisar Taizong bertakhta, pendiri Dinasti Tang tersebut menanyai Wei Zheng, "Apa yang dimaksud dengan raja yang bijaksana dan raja yang gelap gulita?"

Wei Zheng menjawab, "Seorang raja menjadi bijaksana karena ia mau mendengarkan berbagai pendapat; menjadi gelap gulita karena ia cuma memercayai satu pihak" (君之所以明者,兼听也;其所以暗者,偏信也).

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Pemain Persebaya dan Timnas Indonesia Ramadhan Sananta: Zhi Zu Chang Le

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Vice President Special Staff of CEO BRI Insurance Epi Suhardi: Cong Rong Zi Ruo

Lalu, ia menyodorkan sejumlah preseden sejarah. Syahdan, pada masa pemerintahan Kaisar Yao dan Shun, yang berkuasa pada kisaran 2300 hingga 2200-an SM, pintu-pintu istana dibuka selebar-lebarnya untuk menerima aspirasi rakyat. Telinga, mata, dan hati penguasa senantiasa terbuka terhadap segala macam suara.

Makanya, kata Wei Zheng, orang-orang yang tidak kompeten dan hanya ahli omon-omon, tidak akan bisa memutarbalikkan fakta untuk menipu kaisar. Sebab, kaisar tahu betul keadaan di lapangan, karena informasi yang masuk kepadanya bukanlah yang disaring berupa yang bagus-bagus saja.

Qin Er Shi alias Hu Hai malah sebaliknya. Kaisar kedua Dinasti Qin ini hanya memercayai satu orang, Zhao Gao, yang sejak pemerintahan Qin Shi Huang, pendiri Dinasti Qin yang tak lain adalah ayah Hu Hai, sudah hampir selalu berada di samping kaisar berkat statusnya sebagai Kepala Biro Kendaraan Kekaisaran (中车府令).

Qin Shi Huang juga memercayai Zhao Gao sebagai ajudan sekaligus guru politik bagi Hu Hai. Di bawah bimbingan Zhao Gao, Hu Hai mempelajari seluk-beluk pemerintahan, tata kelola negara, sekaligus berbagai intrik politik istana. 

BACA JUGA:Cheng Yu Pendiri Komunitas Kreatif Republik Dolanan Ridho Saiful Ashadi (Cak Ipoel): Jiao Xue Xiang Zhang

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Minister Counsellor KBRI Ottawa Hermanus Dimara: An Fen Zhi Zu

Kedekatan itulah yang kemudian dimanfaatkan Zhao Gao untuk merekayasa surat wasiat Qin Shi Huang terkait suksesi kepemimpinan. Konkretnya, sepeninggal Qin Shi Huang --yang wafat dalam sebuah perjalanan bersama Zhao Gao pada 210 SM-- ia membujuk Hu Hai merebut takhta dengan menyingkirkan kakaknya, Fusu, yang dalam surat wasiat asli telah ditetapkan sang kaisar sebagai pewaris sah Kekaisaran Qin.

Setelah Hu Hai naik takhta melalui kudeta senyap yang dirancang Zhao Gao itu, hampir seluruh roda pemerintahan Dinasti Qin berada di bawah kendali Zhao Gao.

Adapun strategi yang dipakainya untuk menguasai Dinasti Qin ialah dengan mengisolasi kaisar dari para menterinya, menyaring informasi yang sampai kepadanya, menuduh lawan politik melakukan pengkhianatan terhadapnya, dan membabat habis pejabat yang jujur.

Untuk lebih memastikan tak ada seorang pun yang berani menentangnya, Zhao Gao melakukan peristiwa yang kemudian melahirkan pepatah "指鹿为马" (zhǐ lù wéi mǎ), yang secara harfiah berarti "menyebut rusa sebagai kuda" tapi maksudnya: sengaja memanipulasi kebenaran demi kepentingan politik atau kekuasaan.

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Founder Alana Kaye College (Australia) Alana Anderson: Xue Hai Wu Ya

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Editor Harian Disway: Yin Jian Bu Yuan

Alkisah, ia membawa seekor rusa ke hadapan Hu Hai dan bersikeras bahwa hewan itu adalah kuda. Ketika beberapa pejabat menyatakan hewan tersebut jelas-jelas rusa, Zhao Gao segera menghukum mereka. Sejak itu, nyaris tak ada lagi pejabat yang berani mengatakan kebenaran atau membantah kehendaknya.

Sementara Zhao Gao sibuk mempertahankan kekuasaannya, berbagai pemberontakan telah berkobar di daerah-daerah. Namun, Hu Hai tidak menyadari betapa gentingnya keadaan lantaran informasi dari luar istana telah disumbat Zhao Gao.

Saat akhirnya tersadar, semuanya sudah terlambat. Rakyat telanjur murka, kekaisarannya tak lagi dapat diselamatkan, dan Hu Hai pun terpaksa turun dari singgasana yang baru didudukinya sekitar tiga tahun --sebelum menggorok lehernya sendiri atas desakan Zhao Gao. 

Tak sampai dua bulan dari kematian Hu Hai, Dinasti Qin pun bubar. (*)

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Produser Independen Asal Jakarta (Tinggal di Amerika) Naratama: Du Pi Xi Jing

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Trader Erickjuno Hugomarvell Jacob Brunoulu: Jin Rui Tui Su

Kategori :