DINAMIKA geopolitik global dan fluktuasi harga komoditas minyak dunia menyebabkan ketahanan energi menjadi hal penting. Kekuatan energi sebuah bangsa tidak lagi sekadar diukur dari seberapa dalam pipa pengeboran mampu merengkuh isi perut bumi.
Lebih dari itu, ketahanan nasional hari ini sangat bergantung pada bagaimana realitas energi dikomunikasikan secara jujur, transparan, dan strategis kepada publik.
Indonesia saat ini sedang terjebak dalam sebuah paradoks komunikasi yang mencemaskan. Ruang publik kita kerap dibombardir oleh narasi menenangkan yang kerap diproduksi oleh pemerintah, sedangkan di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda.
Tengok saja pada awal konflik AS-Iran, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) gencar menegaskan bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri berada dalam kondisi aman terkendali.
BACA JUGA:Lumbung Energi yang Kehabisan Bensin
BACA JUGA:Madura: Kaya Energi, Miskin Keadilan
Bahkan, di saat negara-negara lain tengah dirundung rasa waswas akibat disrupsi rantai pasok energi dan konflik internasional, pemerintah dengan percaya diri meyakinkan publik bahwa masyarakat tidak perlu khawatir akan ketersediaan pasokan energi nasional.
Narasi ”Stok Aman”
Strategi komunikasi yang bersifat meredam gejolak itu sekilas tampak berhasil menjaga stabilitas psikologis massa dalam jangka pendek. Namun, jika kita menelisik lebih dalam, narasi ”aman” itu laksana sebuah kompres hangat yang hanya menurunkan demam tanpa menyembuhkan penyakit utamanya.
Faktanya, dalam forum peluncuran kajian tengah tahun Indef pada Juni 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia justru membuka tabir tantangan struktural yang sesungguhnya. Bahlil mengungkapkan, Indonesia saat ini harus menanggung beban impor minyak mentah yang sangat masif, yakni menembus angka 1 juta barel per hari.
Kondisi itu berbanding terbalik secara dramatis dengan era keemasan tahun 1996/1997, saat Indonesia masih menjadi negara pengekspor yang mampu memproduksi 1,6 juta barel per hari dan mengekspor sekitar 1,1 juta barel di antaranya karena konsumsi domestik kala itu hanya 500.000 barel per hari.
BACA JUGA:Energi Terbarukan
BACA JUGA:Mengubah Krisis Energi Menjadi Energi Kreativitas
Sumur migas dalam negeri yang kian tua telah membuat kapasitas produksi siap jual (lifting) kita merosot drastis dan dipatok hanya di kisaran 610.000 barel per hari untuk tahun 2026, menciptakan jurang defisit menganga yang menguras devisa dan mengganggu neraca perdagangan kita.
Rombak Tata Kelola Komunikasi