Jika kita menengok praktik baik di tingkat internasional, keberhasilan Jerman dalam menjalankan kebijakan energiewende atau transisi energi sepanjang 2011–2017 dapat menjadi rujukan yang sangat berharga.
Kesuksesan Jerman dalam menggeser ketergantungan energi mereka menuju sumber terbarukan tidak dimulai dari kecanggihan teknologi mutakhir, tetapi dari penerapan prinsip komunikasi risiko yang radikal dan terbuka sejak awal.
Pemerintah Jerman tidak pernah menutupi fakta mengenai kerentanan energi fosil dan risiko lingkungan kepada warganya. Informasi mengenai biaya, tantangan, dan target bauran energi disampaikan secara transparan tanpa bumbu retorika yang melenakan.
Melalui kampanye publik yang inklusif dan terdesentralisasi, masyarakat tidak diposisikan sebagai konsumen pasif yang manja, tetapi sebagai prosumer (produsen sekaligus konsumen) melalui kepemilikan panel surya atap dan koperasi energi komunitas.
Keterbukaan informasi itu terbukti tidak melahirkan kepanikan, tetapi justru memicu solidaritas sosial, inovasi lokal, dan kemandirian energi di tingkat domestik.
Sudah saatnya kita menghentikan produksi narasi kelimpahan semu yang melenakan. Mulailah menyuguhkan peta jalan transisi energi alternatif yang transparan, mudah dipahami, dan dapat diakses secara murah oleh masyarakat.
Kita tidak hanya sedang menyelamatkan ketahanan fiskal negara dari jerat impor minyak bumi, tetapi juga sedang membangun fondasi kedaulatan bangsa yang sejati. (*)
*) Yayan Sakti Suryandaru adalah dosen di Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga, Surabaya.