Trofi Jules Rimet benar-benar hilang bertahun-tahun kemudian setelah diboyong ke Brasil yang menjuarai Piala Dunia 1970. Tak hanya dicuri, trofi itu dilebur menjadi emas, sementara sebuah replika ditempatkan sebagai penggantinya.
Empat tahun kemudian, 1974, Piala Dunia digelar di Jerman Barat, saat Skandal Watergate mengguncang Presiden Richard Nixon di Amerika Serikat. Kediktatoran di Yunani dan Portugal runtuh, dan rezim Augusto Pinochet di Cile semakin memperketat kekuasaannya.
Belanda di bawah asuhan Rinus Michels menjadi fenomena tersendiri dengan menampilkan permainan yang memukau. Dengan Johan Cruyff sebagai pusat inspirasi, didukung Neeskens, Rensenbrink, Krol, dan rekan-rekannya, Belanda memainkan "total football" yang memesona dunia. Mereka melaju ke final tanpa terkalahkan, mencetak empat belas gol dan hanya kebobolan sekali.
Namun, tim terbaik kerap kali tidak menjadi juara. Dalam final, Franz Beckenbauer memimpin Jerman Barat mengalahkan Belanda 2-1.
Di tengah suasana itu, dunia sepak bola juga mengalami perubahan besar ketika João Havelange berhasil mengalahkan Stanley Rous dalam pemilihan presiden FIFA. Turnamen kali ini juga menandai hadirnya trofi baru setelah trofi Jules Rimet menjadi milik permanen Brasil.
Peristiwa politik yang dicatat Galeano adalah kegagalan Uni Soviet lolos dari babak kualifikasi karena menolak memainkan laga di Stadion Nasional Cile, yang sebelumnya digunakan sebagai kamp tahanan dan lokasi eksekusi setelah kudeta militer oleh Pinochet.
Kekejaman rezim militer itu terulang pada Piala Dunia 1978 di Argentina. Kali ini junta militer yang dipimpin Jorge Videla menghadirkan kontras yang bisu. Di satu sisi, stadion dipenuhi perayaan sepak bola. Sementara di sisi lain aparat militer menjalankan penindasan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap lawan politik.
Galeano menyoroti ironi ketika para tamu kehormatan memuji Argentina sebagai negara yang tertib dan menjanjikan.
"Argentina is a country where order reigns. I haven’t seen a single political prisoner," kata Berti Vogts, kapten Jerman Barat.
Padahal kamp-kamp penyiksaan beroperasi tidak jauh dari stadion utama. Namun para pemain Belanda menolak memberi penghormatan kepada para pemimpin junta militer ketika trofi diserahkan.
Politik masih membuntuti Piala Dunia 1982 di Spanyol. Namun peristiwa terpenting adalah saat sastrawan Gabriel García Márquez menerima Hadiah Nobel di tengah konflik dan pembantaian yang terjadi di Amerika Latin, serta kekalahan rezim militer Argentina dalam Perang Falkland melawan Inggris.
Zico, Falcão, dan Sócrates menjadikan Brasil tim paling memikat dengan memainkan sepak bola indah yang memadukan kreativitas dan teknik tinggi. Namun trofi menjadi milik Italia yang mengalahkan Jerman Barat 3–1 di final.
Gol ”Tangan Tuhan”
Gempa menghancurkan Meksiko sebelum Piala Dunia 1986. Di tengah puing-puing dan upaya pemulihan, mereka menjadi tuan rumah dan menyediakan panggung bagi Maradona yang membawa Argentina menuju kejayaan.
Setelah mempermalukan Inggris dengan gol "Tangan Tuhan" dan gol dengan aksi solo melewati sejumlah pemain lawan, Maradona memimpin Argentina menjadi juara dengan mengalahkan Jerman Barat 3–2.
Empat tahun kemudian, Piala Dunia berlangsung saat Tembok Berlin runtuh dan Uni Soviet mulai kehilangan pengaruhnya. Dunia memasuki babak baru sejarah, dengan Piala Dunia yang paling membosankan dalam sejarah, di mana hanya tercipta rata-rata 2,21 gol per laga, tercatat terendah sepanjang sejarah Piala Dunia (tertinggi terjadi pada Piala Dunia 1954 dengan 5,38 gol per laga).
Piala Dunia 1994 berlangsung di Amerika Serikat, saat Mandela terpilih di Afrika Selatan, perang melanda bekas Yugoslavia, dan berbagai negara bekas blok Timur mulai merasakan realitas kapitalisme.