Final 'Palestina' vs 'Israel'

Sabtu 18-07-2026,04:33 WIB
Reporter : Dhimam Abror Djuraid
Editor : Yusuf Ridho

Bellingham mengatakan tidak menyesal dengan perbuatannya, kendati terancam sanksi dari FIFA. Ia mengenang sejarah panjang pertemuan Inggris melawan Argentina. Ada insiden ”Tangan Tuhan” Maradona, ada insiden Beckham dengan Simeone, dan luka karena perang Malvinas. 

Bellingham marah ketika fans Argentina menyanyikan lagu dengan bait ”untuk pahlawan yang gugur di Malvinas yang takkan kami lupakan”.

Olahraga internasional sudah lama menjadi panggung simbolis bagi berbagai isu politik dunia. Sebanyak 11 atlet Israel tewas dalam tragedi Black September di Jerman, ketika sejumlah aktivis Palestina menculik dan membunuh mereka. 

Afrika Selatan dilarang tampil di berbagai event internasional karena politik apartheid yang diskriminatif. Rusia diisolasi dari berbagai event olahraga internasional karena menyerbu Ukraina.

Itu menunjukkan bahwa olahraga tidak pernah steril dari politik. Karena itu, tidak heran jika publik membaca final Piala Dunia melalui lensa konflik Israel-Palestina.

Tentu ada perbedaan antara metafora dan fakta. Narasi bahwa final Spanyol versus Argentina adalah final antara Zionis Israel melawan pejuang Palestina di Gaza bisa menyesatkan. Pasalnya, konflik Israel-Palestina amat kompleks sehingga tidak bisa dianalogikan menjadi pertandingan antara dua pihak saja.

Konflik Israel-Palestina lebih rumit daripada sekadar dikotomi hitam-putih antara dua kubu. Di Israel banyak kelompok yang mengkritik kebijakan pemerintahnya. Warga Palestina juga tidak monolitik. Banyak pandangan politik yang berbeda pada warganya. 

Demikian pula di Argentina dan Spanyol. Masyarakat tidak mungkin satu suara mengenai konflik Israel-Pelestina. Karena itu, mengaitkan sepak bola dengan kebijakan politik sebuah negara bisa menimbulkan bias.

Pada akhirnya, final Piala Dunia tetaplah pertandingan sepak bola yang ditentukan oleh kemampuan, performa, dan strategi pelatih dan pemain di lapangan.  Analogi ”Palestina vs Israel” di final Piala Dunia bisa menjadi alat untuk memahami bagaimana olahraga berinteraksi dengan isu global. 

Namun, hal tersebut tidak mengaburkan fakta bahwa para atlet bertanding sebagai pesepak bola, bukan sebagai duta politik negara masing-masing. (*)

Kategori :