Nasionalisme Itu Bola
ILUSTRASI Nasionalisme Itu Bola.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
KETIKA Piala Dunia berlangsung, ruang keluarga di berbagai penjuru dunia berubah menjadi arena kecil tempat identitas dipertaruhkan. Di Indonesia, ada yang mendukung Argentina, Brasil, Inggris, Prancis, atau Jerman dengan kesetiaan yang terkadang lebih besar daripada keterlibatan mereka dalam isu-isu politik internasional.
Mereka rela bergadang hingga dini hari, mengenakan seragam kebanggaan, dan mengikuti setiap perkembangan turnamen dengan penuh antusias.
Fenomena itu tampak sederhana. Namun, di baliknya tersimpan pertanyaan yang menarik. Mengapa seseorang dapat merasakan kebanggaan atas kemenangan negara yang bukan miliknya? Mengapa kekalahan Brasil dapat menghadirkan kekecewaan di Jakarta, sedangkan kemenangan Argentina dirayakan di Samarinda atau Jember?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan pada saat dunia memasuki era yang makin global. Batas-batas negara kian terbuka. Teknologi memungkinkan manusia berinteraksi lintas benua secara instan. Namun, di tengah proses globalisasi itu, nasionalisme ternyata tidak menghilang. Sebaliknya, ia terus menemukan bentuk-bentuk baru untuk hidup dan berkembang.
BACA JUGA:Rafflesia Hasseltii, Menimbang (Ulang) Nasionalisme Kita
BACA JUGA:Nasionalisme di Era Digital Disruptif
Salah satu panggung terbesarnya adalah sepak bola.
Hubungan antara sepak bola dan nasionalisme sesungguhnya bukan fenomena baru. Keduanya tumbuh hampir bersamaan dalam sejarah modern. Pada abad ke-19, ketika negara-bangsa mulai menjadi bentuk organisasi politik yang dominan di Eropa, sepak bola juga mengalami proses institusionalisasi.
Aturan permainan dibakukan di Inggris, kompetisi mulai diselenggarakan secara teratur, dan olahraga itu perlahan menyebar ke berbagai penjuru dunia melalui jalur perdagangan, kolonialisme, dan migrasi.
Pada awal abad ke-20, sepak bola telah berkembang menjadi lebih dari sekadar permainan. Ia menjadi simbol identitas nasional. Pertandingan internasional memberikan kesempatan bagi negara-negara untuk menampilkan diri di hadapan dunia. Jika perang menjadi arena perebutan kekuasaan, olahraga menjadi arena perebutan prestise.
BACA JUGA:Dari Pena ke Postingan: Nasionalisme dalam Bayang-Bayang Simulasi
BACA JUGA:Gaduh Blokir Rekening: Uang Bukanlah Entitas yang Tunduk pada Nasionalisme
Karena itu, tidak mengherankan apabila Piala Dunia sejak awal selalu sarat dengan makna politik. Ketika Uruguay menjadi tuan rumah dan juara pada 1930, sepak bola digunakan untuk menunjukkan kemajuan sebuah bangsa muda. Ketika Italia menjuarai Piala Dunia 1934 dan 1938, rezim fasis Benito Mussolini menjadikannya instrumen propaganda nasional. Pada masa Perang Dingin, kemenangan dan kekalahan dalam arena olahraga sering dibaca sebagai refleksi superioritas sistem politik yang bersaing.
Dengan kata lain, sepak bola tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu menjadi ruang tempat identitas nasional diproduksi, dipertunjukkan, dan diperebutkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: