Semiotika Bendera Setengah Tiang
ILUSTRASI Semiotika Bendera Setengah Tiang.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SETIAP Agustus kita akan sering mendengar lagu Bendera dari band rock Kotak. Lagu itu bisa disebut sebagai lagu patriotik modern paling ikonik di Indonesia. Lagu tersebut menggambarkan kecintaan yang penuh semangat kepada tanah air melalui Bendera merah putih.
Bendera menjadi salah satu simbol politik paling kuat dalam kehidupan berbangsa. Sebagai lambang negara, bendera bukan sekadar selembar kain berwarna merah putih, melainkan tanda (sign) yang memuat sejarah, identitas nasional, legitimasi kekuasaan, dan imajinasi kolektif mengenai bangsa.
Di media sosial sempat beredar video sebuah desa yang warganya memasang bendera setengah tiang. Dalam video itu tergambar sepanjang jalan desa terlihat bendera setengah tiang berkibar di depan rumah warga.
Bendera setengah tiang dimaknai sebagai tanda berkabung atau penghormatan terhadap tokoh maupun peristiwa tertentu. Dalam perspektif semiotika, makna simbol tidak pernah tunggal. Ia selalu terbuka terhadap proses penafsiran, negosiasi, bahkan perebutan makna.
BACA JUGA:Upacara Bendera dan Etika Keteladanan Bangsa
BACA JUGA:Dari Fiksi ke Jalanan: Bendera One Piece dan Sastra Perlawanan Global
Tanda, menurut Roland Barthes, memiliki dua tingkat pemaknaan, yakni denotasi dan konotasi. Pada tingkat denotasi, bendera setengah tiang hanya berarti posisi bendera yang tidak dikibarkan hingga puncak tiang.
Namun, pada level konotasi, hal itu bisa membawa beragam makna, yaitu kesedihan, kehilangan, penghormatan, solidaritas, hingga kritik terhadap keadaan sosial dan kekuasaan.
Ketika makna konotatif terus diulang dalam ruang publik, media massa, maupun praktik kenegaraan, ia berkembang menjadi mitos (myth), yakni sistem makna yang tampak alamiah, padahal sesungguhnya merupakan konstruksi sosial dan politik.
Mitos bekerja dengan menyembunyikan proses pembentukannya. Misalnya, bendera setengah tiang sering dipahami semata-mata sebagai ritual kenegaraan yang netral. Padahal, keputusan kapan, untuk siapa, dan dalam konteks apa bendera dikibarkan setengah tiang merupakan keputusan politik yang tidak lepas dari relasi kekuasaan.
BACA JUGA:Bendera Putih
BACA JUGA:Prabowo Soroti 95 Persen Kapal Pengangkut Barang Masih Berbendera Asing
Praktik tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari produksi makna negara mengenai siapa yang layak dikenang, peristiwa mana yang dianggap penting, dan narasi sejarah apa yang hendak dipertahankan.
Pengibaran bendera setengah tiang dapat ditafsirkan sebagai ekspresi kritik terhadap kondisi sosial-politik. Makna konotatif muncul bergantung pada konteks, pelaku, dan situasi komunikasi. Simbol yang sama dapat menghasilkan makna yang berbeda karena tanda selalu bergantung pada kode budaya yang mengitarinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: