Upacara Bendera dan Etika Keteladanan Bangsa

Upacara Bendera dan Etika Keteladanan Bangsa

ILUSTRASI Upacara Bendera dan Etika Keteladanan Bangsa.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

KEPUTUSAN pemerintah yang mewajibkan pelaksanaan upacara bendera setiap Senin di sekolah patut dibaca sebagai ikhtiar serius memperkuat pendidikan karakter dan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda. 

Dalam tradisi negara-bangsa modern, ritual kenegaraan seperti upacara bendera bukan sekadar seremoni, melainkan juga instrumen simbolis untuk menanamkan disiplin, kebersamaan, dan identitas nasional.

Namun, pertanyaan yang perlu diajukan bukan ”apakah upacara bendera penting”, melainkan ”apakah ritual kebangsaan cukup efektif membangun nasionalisme jika tidak ditopang oleh keteladanan nyata dalam kehidupan bernegara”.

BACA JUGA:Midtown Residence Surabaya Rayakan HUT RI ke-80 dengan Upacara Bendera dan Fashion Show Disabilitas

BACA JUGA:Luhut Optimis Progres Pembangunan IKN Capai 80 Persen Agustus Nanti, Siap Buat Upacara Bendera

Dalam kajian pendidikan karakter, simbol dan ritual memang memiliki fungsi pedagogis. Ia membantu membangun kesadaran kolektif, rasa kebersamaan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai dasar negara. 

Akan tetapi, teori pembelajaran sosial menegaskan bahwa nilai moral tidak terutama ditanamkan melalui instruksi dan simbol, tetapi melalui contoh nyata yang diamati secara konsisten. 

Anak didik belajar dari apa yang dilakukan figur otoritas, bukan hanya oleh ucapan atau perintah figur otoritas tersebut. Di sanalah persoalan menjadi lebih kompleks. 

Indonesia tidak kekurangan simbol nasionalisme. Bendera, lagu kebangsaan, teks Pancasila, dan upacara rutin telah menjadi bagian dari keseharian pendidikan formal selama puluhan tahun. 

BACA JUGA:Poros Kebangsaan IKN Tempat Upacara Bendera dan Seremoni, Ditarget Rampung Desember 2023

BACA JUGA:Infrastruktur IKN On Schedule, Bisa Dibuat Upacara Bendera 17 Agustus 2024

Namun, di saat yang sama, generasi muda juga menyaksikan realitas sosial-politik yang kerap bertolak belakang dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam ritual tersebut. 

Apa itu? Praktik korupsi yang terus terjadi berulang kali, konflik kepentingan elite, lemahnya etika pelayanan publik, serta ketimpangan antara janji dan praktik kekuasaan. Ketegangan itulah yang berpotensi melahirkan sinisme kebangsaan.

Upacara bendera yang mengajarkan disiplin dan cinta tanah air akan kehilangan kekuatan moralnya jika anak-anak dan remaja melihat bahwa elite yang memimpin negara tidak selalu menunjukkan disiplin etis yang sama. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: