Koridor Sempit Demokrasi

Koridor Sempit Demokrasi

ILUSTRASI Koridor Sempit Demokrasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

DEMOKRASI dan otoritarianisme itu seperti dua jari yang bersebelahan. Beti alias beda tipis. Seperti sebuah jalan sempit yang berimpit. Seorang pemimpin despotik yang otoritarian bisa terlihat seperti seorang demokrat. Sebab, ia memakai mekanisme DEMOKRASI prosedural sebagai cara untuk mencapai kekuasaan.

Demokrasi adalah koridor sempit yang panjang dan berliku. Harus dititi dengan cermat dan hati-hati supaya tidak terpeleset dan jatuh ke dalam jurang. Ibarat titian serambut dibelah tujuh, demokrasi terancam bahaya dari kiri dan kanan. Di sebelah kanan ada jurang otoritarianisme dan di sebelah kiri ada jurang anarkisme.

Jika terpeleset dan jatuh ke sebelah kanan, demokrasi akan dilalap jurang otoritarianisme. Pemerintahan yang terlalu kuat dan mendominasi lembaga legislatif dan yudikatif akan menghilangkan keseimbangan yang dibutuhkan untuk melewati titian. Titian itu menjadi mekanisme checks and balances untuk menjaga keseimbangan demokrasi.

BACA JUGA:Demokrasi Santun ala Prabowo

BACA JUGA:Demo Tegakkan Demokrasi

Sebagai sebuah negara merdeka, Indonesia masih relatif muda usia. Dalam usia yang masih pendek itu, Indonesia sudah mengalami banyak sistem pemerintahan. Mulai demokrasi liberal sampai demokrasi terpimpin dan otoritarianisme.

Sepanjang sejarah Indonesia, sistem pemerintahan berganti-ganti sesuai dengan selera presidennya. Soekarno membuat eksperimen dengan demokrasi terpimpin dan melakukan blending ideologi menyatukan Islam, komunisme, dan nasionalisme. Eksperimen itu gagal dan Soekarno jatuh.

Soeharto melakukan koreksi terhadap kebijakan Soekarno dengan memperkenalkan Orde Baru yang otoritarianis. Soeharto bertahan selama 32 tahun dan dijatuhkan oleh gerakan mahasiswa.

BACA JUGA:Demokrasi Prosedural dan Substantif

BACA JUGA:Demokrasi Fandom

Era reformasi memunculkan harapan baru akan sebuah sistem politik demokratis yang lebih stabil. Namun, belum 30 tahun berlalu, reformasi sudah tinggal tiang-tiang yang keropos. Ancaman totalitarianisme membayang dalam era Jokowi. Pun, sekarang di era Prabowo, demokrasi menghadapi ujian serius.

Tarik-menarik antara demokrasi dan totalitarianisme itu digambarkan oleh Daron Acemoglu dan James Anderson dalam buku The Narrow Corridor: State, Societies and the Fate of Liberty (2019). 

Demokrasi akan subur kalau berada dalam keseimbangan. Kekuatan negara (state) dan kekuatan rakyat (society) berada pada posisi seimbang karena saling mengontrol dan mengawasi. Dalam posisi seimbang itulah akan terjadi kebebasan demokrasi (liberty). Sebab, tidak ada dominasi dari satu kekuatan terhadap lainnya.

BACA JUGA:Demokrasi Apartheid dan Judicial Overhaul ala Benjamin Netanyahu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: