Demokrasi Sasetan: Murah, Instan, tetapi Bikin Kembung
ILUSTRASI Demokrasi Sasetan: Murah, Instan, tetapi Bikin Kembung.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SUARA sobekan plastik terdengar nyaring di warung kopi pinggir jalan. Bubuk hitam tertuang ke gelas. Air panas menyusul. Aduk tiga kali. Siap minum. Prosesnya cuma satu menit. Harganya murah meriah. Rasanya manis meski gula buatan mendominasi lidah.
Hal tersebut menjadi kenikmatan sasetan. Budaya serbacepat, ringkas, dan eceran yang merasuk ke sumsum tulang belakang masyarakat. Tidak ada yang salah dengan kopi saset.
Namun, persoalan menjadi rumit sewaktu mentalitas sasetan tersebut diadopsi ke dalam ranah bernegara. Demokrasi pun kini tersaji dalam kemasan saset, yaitu murah di ongkos, instan hasilnya, tetapi bikin kembung perut rakyat di kemudian hari.
BACA JUGA:Menggapai Demokrasi Substansial
BACA JUGA:Demokrasi di Bawah Bayang-Bayang Algoritma
MENTALITAS ECERAN DI GEDUNG DEWAN
Lihatlah pola kebijakan publik belakangan. Semuanya serbapotong kompas. Membangun fondasi ekonomi jangka panjang dianggap terlalu lama. Butuh waktu puluhan tahun. Rakyat tidak sabar. Elite politik pun enggan menunggu.
Maka, solusi instan jadi primadona. Bantuan sosial tunai digelontorkan seperti hujan di musim kemarau. Subsidi barang konsumsi dipertebal. Tujuannya sederhana, yaitu rakyat senang hari itu juga. Kenyang saat itu juga.
Logika tersebut persis membeli sampo sasetan. Beli botol besar memang lebih hemat dalam jangka panjang, tetapi butuh uang besar di awal. Karena uang sedang cekak, sampo saset jadi pilihan.
BACA JUGA:Pilkada dan Komitmen Kedewasaan Psikologis Demokrasi
BACA JUGA:Demokrasi dalam Pilkada: Perlu Belajar dari Pilkades
Dalam politik, reformasi struktural menjadi suatu botol besar tersebut. Mahal dan berat. Sedangkan bansos menjadi sasetannya. Warga merasa terbantu. Pejabat merasa sudah bekerja. Padahal, kemiskinan tidak hilang. Ketergantungan justru makin akut.
Mentalitas eceran tersebut melahirkan kebijakan yang rapuh. Undang-undang dibuat tergesa-gesa. Alasannya demi investasi atau percepatan ekonomi. Tidak ada diskusi mendalam. Tidak ada perdebatan filosofis yang matang. Yang penting ketok palu. Yang penting jadi.
Hasilnya aturan yang cacat logika dan sering kali harus ditambal sulam lewat gugatan di mahkamah. Kualitas legislasi merosot tajam karena dikejar target tayang. Persis sinetron kejar tayang yang naskahnya ditulis dadakan di lokasi syuting.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: