Mewujudkan Indonesia Emas di Tengah Krisis Multidemensi, Bisakah?
ILUSTRASI Mewujudkan Indonesia Emas di Tengah Krisis Multidemensi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
BEBERAPA waktu lalu ada seseorang yang bertanya kepada saya, kapan kondisi ekonomi Indonesia akan membaik dan apakah Indonesia emas benar-benar akan terjadi atau sekadar angan-angan.
Jujur saja, di tengah pesimisme publik terhadap kondisi ekonomi saat ini, saya juga memahami mengapa pertanyaan tersebut muncul. Ketika media dipenuhi kabar PHK, perlambatan ekonomi, penurunan daya beli, ketidakpastian investasi, hingga berbagai persoalan fiskal dan politik, wajar apabila banyak masyarakat yang mulai mempertanyakan arah masa depan negara ini.
Namun, apabila saya mencoba melihatnya secara lebih realistis, saya tidak melihat Indonesia emas sebagai sesuatu yang mustahil. Tantangan terbesar Indonesia bukan terletak pada kurangnya sumber daya alam, kurangnya populasi produktif, ataupun kurangnya potensi ekonomi. Tantangan terbesar justru berada pada kualitas institusi, budaya kerja, serta pola pikir yang telah mengakar sangat lama.
Korupsi merupakan contoh yang paling jelas. Banyak orang menganggap korupsi hanya terjadi di tingkat pejabat tinggi. Padahal, dari sudut pandang ekonomi politik, korupsi sering kali merupakan gejala budaya yang muncul dalam berbagai bentuk dan tingkatan.
BACA JUGA:Paradoks Indonesia Emas: Efisiensi APBN vs Hak Akses Masyarakat ke Literasi
BACA JUGA:MBG, Mengawal Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045
Mulai penyalahgunaan koneksi pribadi, manipulasi data, pemberian uang pelicin, hingga korupsi dalam skala besar. Skalanya memang berbeda, tetapi pola pikir dasarnya sering kali sama, yaitu memperoleh keuntungan pribadi dengan mengabaikan aturan ketika kesempatan tersedia.
Karena itulah, saya berpendapat bahwa korupsi bukan hanya persoalan hukum, melainkan juga persoalan budaya dan insentif sosial. Sejarah menunjukkan bahwa praktik patronase, kedekatan dengan penguasa, dan pemanfaatan jabatan untuk memperoleh keuntungan ekonomi bukanlah fenomena baru.
Setelah Indonesia berdiri sebagai negara modern, pola tersebut tidak otomatis hilang hanya karena sistem pemerintahan berubah.
Namun, apakah kondisi tersebut berarti Indonesia tidak dapat maju?
Menurut saya tidak demikian.
BACA JUGA:Menuju Indonesia Emas 2045 dengan Transformasi Dialektis
BACA JUGA:Ekonomi Hijau, Sebuah Harapan Indonesia Emas 2045
Secara teori ekonomi, ada beberapa alasan mengapa peluang menuju Indonesia emas masih terbuka. Salah satunya adalah konsep bonus demografi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: